Selasa, 31 Agustus 2010

data bab 1 skripsi amran

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalamanya sendiri. Dalam proses belajar ini berhasil atau tidaknya pelaksanaan proses tersebut sangat di pengaruhi oleh banyak hal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar salah satunya adalah motivasi belajar.
Menurut Surya (1996: 62) mengemukakan bahwa motivasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu. Dalam proses pembelajaran motivasi sangat diperlukan. Hasil belajar siswa akan menjadi optimal bila ada motivasi.

Sedangkan menurut pendapat Hawley dalam (Yusuf, 1993:14) menyatakan “bahwa siswa yang memiliki motivasi tinggi, belajarnya lebih baik dibandingkan dengan siswa yang motivasinya rendah”.

Pada pelaksanaan proses pembelajaran salah satu komponen yang menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan proses pembelajaran adalah guru. Guru merupakan motivator dalam meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru memiliki peran untuk merangsang dan memberikan dorongan yang positif serta penguatan kepada siswa, menumbuhkan aktivitas dan kreativitas sehingga siswa akan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.
Guru sebagai motivator belajar bagi para siswanya, harus mampu untuk membangkitkan dorongan siswa untuk belajar, menjelaskan secara konkrit kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pelajaran, memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai kemudian hari dan membuat regulasi (aturan) perilaku siswa. Jadi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran sangatlah dipengaruhi oleh peran seorang guru. Hal ini menunjukan bahwa kegagalan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dimungkinkan karena guru tidak berhasil dalam memberikan motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan siswa untuk belajar (Sardiman, 2007:75).
Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah ditandai oleh bentuk tingkahlaku sebagai berikut : (1) kelesuan dan ketidakberdayaan; (2) penghindaran atau pelarian diri; (3) pertentangan; dan (4) kompensasi (Syaodih, 1980 :59). Fenomena yang terjadi di lapangan sehubungan dengan motivasi belajar menunjukkan perilaku sebagai berikut : (1) membolos, datang terlambat , tidak mengerjakan PR, dan tidak teratur dalam belajar; (2) menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti menentang, acuh tak acuh, berpura-pura ; (3) lambat dalam melaksanakan tugas-tugas kegiatan belajar; dan (4) menunjukan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, pemarah, mudah tersinggung, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Menurut Natawidjaja (1988 :22) keempat gejala yang ditunjukkan tersebut mengisyaratkan adanya kesulitan belajar pada diri siswa. Kesulitan belajar tersebut di duga berkaitan erat dengan motivasi belajar yang dimilikinya.
Sekolah merupakan salah satu tempat pendidikan bagi siswa untuk dapat mengembangkan diri melalui layanan bimbingan dan konseling, salah satu programnya yaitu layanan bimbingan kelompok. Layanan ini merupakan salah satu jenis layanan yang dianggap tepat untuk memberikan kontribusi pada siswa dalam mengembangkan, meningkatkan motivasi belajar siswa. Bimbingan kelompok merupakan lingkungan kondusif yang memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, memberikan ide, perasaan, dukungan bantuan alternatif pemecahan masalah dan mengambil keputusan yang tepat , dapat berlatih tentang perilaku baru dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukannya sendiri. Suasana ini dapat menumbuhkan perasaan berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah motivasi belajar siswa.
Bimbingan kelompok tepat digunakan sebagai salah satu bentuk layanan bimbingan dan konseling untuk dapat diberikan kepada siswa yang masih memerlukan pengembangan perilaku dimaksud, baik di rumah, sekolah maupun lingkungan masyarakat sehingga diharapkan secara optimal siswa mengalami perubahan dan mencapai peningkatan yang positif setelah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok.
Berdasarkan studi pendahuluan oleh peneliti melalui wawancara dengan guru pembimbing di SMA N 1 Indralaya ternyata masih terdapat siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah hal ini dapat di lihat dari prestasi belajar yang rendah pada setiap mata pelajaran, masih ada siswa-siswi yang tidak bersemangat dalam belajar, datang terlambat, membolos sekolah, tidak membuat PR. Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMA N 1 Indralaya ini belum berjalan secara optimal sehingga belum dapat menerapkan beberapa layanan seperti halnya layanan bimbingan kelompok. Hal ini diakibatkan karena tidak adanya program bimbingan dan konseling di sekolah tersebut. Untuk itu peneliti merasa perlu mengadakan bimbingan kelompok.
Upaya peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan layanan bimbingan kelompok. Dalam kegiatan bimbingan kelompok terdiri dari beberapa langkah-langkah yang harus di lalui seperti tahap I (tahap pembentukan), tahap II (tahap peralihan), tahap III (tahap kegiatan), tahap IV (tahap pengakhiran).

Pelaksanaan bimbingan kelompok akan membahas topik bebas dan juga tugas. Dimana topik tugas artinya topik/tema yang akan dibahas telah di tentukan oleh peneliti dimana anggota kelompok nantinya memilih topik mana yang akan di bahas untuk masing-masing pertemuan. Dalam topik bebas artinya anggota kelompok di berikan hak untuk menentukan sendiri topik.
Pada saat berlangsungnya proses bimbingan kelompok masing-masing anggota kelompok di dalamnya saling mengemukakan pendapat, memberikan saran maupun ide-ide, menanggapi, saling berkomunikasi, menciptakan dinamika kelompok untuk mengembangkan diri yaitu berlatih mengkomunikasikan pendapat-pendapat yang ada pada tiap-tiap anggota dalam membahas suatu topik.
Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:
1. Durasi kegiatan;
2. Frekuensi kegiatan;
3. Persistensi pada kegiatan;
4. Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan
kesulitan;
5. Devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan;
6. Tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan;
7. Tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari
kegiatan yang dilakukan;
8. Arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Layanan bimbingan kelompok tepat digunakan sebagai salah satu bentuk layanan bimbingan dan konseling untuk dapat diberikan kepada siswa yang memiliki motivasi belajar yang masih rendah. Berdasarkan latar belakang uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2010/2011.

1.2 Rumusan Masalah
Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2010/2011?.



1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Apakah ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2010/2011?.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa
Dengan adanya kegiatan bimbingan kelompok ini diharapkan siswa
sadar untuk dapat meningkatkan motivasi belajarnya guna memperoleh
hasil belajar yang lebih baik dan mendapatkan prestasi belajar yang
memuaskan.
2. Bagi Guru Pembimbing
Sebagai informasi tentang penggunaan aplikasi layanan bimbingan dan
konseling untuk mengatasi permasalahan siswa melalui bimbingan
kelompok guna peningkatan hasil belajar.
3. Bagi Sekolah
Sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah untuk dapat melaksanakan
kegiatan layanan bimbingan kelompok dalam membantu meningkatkan
motivasi belajar siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar