Fish

Jumat, 11 Juni 2010

PROPOSAL PENELITIAN PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI IPA I SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 INDRALAYA TAHUN PELAJARAN 2009/2010


A. Pendahuluan
1.1.  Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalamanya sendiri. Dalam proses belajar ini berhasil atau tidaknya pelaksanaan proses tersebut sangat di pengaruhi oleh banyak hal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar salah satunya adalah motivasi belajar.
Menurut Surya (1996: 62) mengemukakan bahwa motivasi  merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan  perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan  tertentu. Dalam proses  pembelajaran  motivasi sangat diperlukan. Hasil  belajar  siswa  akan  menjadi  optimal  bila ada motivasi.
Sedangkan menurut pendapat Hawley dalam (Yusuf, 1993:14)   menyatakan bahwa siswa   yang   memiliki   motivasi   tinggi,   belajarnya    lebih   baik   dibandingkan   dengan  siswa  yang  motivasinya  rendah. Pada pelaksanaan proses pembelajaran salah satu komponen yang menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan  proses pembelajaran adalah guru. Guru merupakan motivator dalam meningkatkan  kegairahan  dan  pengembangan  kegiatan  belajar   siswa. Guru  memiliki peran untuk merangsang   dan   memberikan  dorongan   yang  positif  serta   penguatan      kepada siswa,   menumbuhkan   aktivitas  dan   kreativitas sehingga siswa akan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.
Guru sebagai motivator belajar bagi para siswanya, harus mampu untuk membangkitkan dorongan siswa untuk belajar, menjelaskan secara konkrit  kepada siswa apa yang dapat  dilakukan pada akhir pelajaran, memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai kemudian hari dan membuat regulasi (aturan) perilaku siswa. Jadi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran sangatlah dipengaruhi oleh peran seorang guru. Hal ini menunjukan bahwa kegagalan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dimungkinkan karena guru tidak berhasil dalam memberikan motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan siswa untuk belajar (Sardiman, 2007:75).
Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah ditandai oleh  bentuk tingkahlaku  sebagai berikut : (1) kelesuan dan ketidakberdayaan; (2) penghindaran atau pelarian diri; (3) pertentangan; dan (4) kompensasi (Syaodih, 1980 :59).  Fenomena yang terjadi di lapangan sehubungan dengan  motivasi belajar menunjukkan perilaku sebagai berikut : (1) membolos, datang terlambat , tidak mengerjakan PR, dan tidak teratur dalam belajar; (2) menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti menentang, acuh tak acuh, berpura-pura ; (3) lambat dalam melaksanakan tugas-tugas kegiatan belajar; dan (4) menunjukan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, pemarah, mudah tersinggung, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi  tertentu. Menurut Natawidjaja (1988 :22) keempat gejala yang ditunjukkan tersebut mengisyaratkan  adanya kesulitan belajar pada diri siswa. Kesulitan belajar tersebut  di duga berkaitan erat dengan motivasi belajar yang dimilikinya.
   Sekolah merupakan salah satu tempat pendidikan bagi siswa untuk dapat mengembangkan diri  melalui layanan bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu jenis layanan yang dianggap tepat untuk memberikan kontribusi pada siswa dalam mengembangkan, meningkatkan  motivasi belajar siswa. Bimbingan kelompok merupakan lingkungan kondusif yang memberikan kesempatan  bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, memberikan ide, perasaan, dukungan bantuan alternatif pemecahan masalah dan mengambil keputusan yang tepat , dapat berlatih  tentang perilaku baru dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukannya sendiri. Suasana ini dapat menumbuhkan  perasaan  berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah motivasi belajar siswa.
Bimbingan kelompok tepat digunakan sebagai salah satu bentuk layanan  bimbingan dan konseling untuk dapat diberikan kepada siswa yang masih memerlukan pengembangan perilaku dimaksud, baik di rumah, sekolah maupun lingkungan masyarakat sehingga diharapkan secara optimal siswa mengalami perubahan dan mencapai  peningkatan yang positif  setelah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok.
Berdasarkan studi pendahuluan oleh peneliti melalui  wawancara dengan guru pembimbing di SMA N 1 Indralaya ternyata masih terdapat  siswa yang  memiliki motivasi belajar yang rendah hal ini dapat di lihat dari prestasi hasil belajarnya di kelas dengan nilai yang rendah pada setiap mata pelajaran, masih ada siswa-siswi yang tidak bersemangat dalam belajar, datang terlambat, membolos sekolah, tidak membuat PR. Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMA N 1 Indralaya ini belum berjalan secara optimal  sehingga belum dapat menerapkan beberapa layanan seperti halnya layanan bimbingan kelompok. Hal ini diakibatkan karena tidak adanya 1 jam mata pelajaran bimbingan dan konseling di sekolah tersebut. Untuk itu peneliti merasa perlu mengadakan bimbingan kelompok di  sekolah yang akan di adakan di luar jam pelajaran sehingga tidak menganggu aktivitas belajar siswa pada proses belajar mengajar.
Upaya peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan layanan bimbingan kelompok. Dalam kegiatan bimbingan kelompok ini akan membahas topik tugas yang akan di sajikan oleh peneliti dimana anggota kelompok nantinya memilih topik  mana yang akan di bahas untuk masing-masing pertemuan. Pada saat berlangsungnya proses bimbingan kelompok  masing-masing anggota kelompok di dalamnya saling mengemukakan pendapat, memberikan saran maupun ide-ide, menanggapi, saling berkomunikasi, menciptakan dinamika kelompok untuk mengembangkan diri yaitu berlatih mengkomunikasikan pendapat-pendapat yang ada pada tiap-tiap anggota dalam membahas suatu topik.
Layanan bimbingan kelompok tepat digunakan sebagai salah satu bentuk layanan bimbingan dan konseling untuk dapat diberikan kepada siswa yang memiliki motivasi belajar yang masih rendah. Berdasarkan latar belakang uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar  siswa kelas  XI IPA I    SMA  Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2009/2010.

1.2    Rumusan Masalah
Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar  siswa kelas  XI IPA I    SMA  Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2009/2010 ?.

1.3   Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Apakah ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar  siswa kelas  XI IPA I    SMA  Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2009/2010 ?.

1.4    Manfaat Penelitian        
1.  Bagi siswa
  Dengan adanya kegiatan bimbingan kelompok  ini diharapkan siswa 
 dapat meningkatkan motivasi belajarnya guna memperoleh hasil belajar
  yang lebih baik dan mendapatkan prestasi belajar yang memuaskan.
2.  Bagi Guru Pembimbing
              Sebagai informasi tentang penggunaan aplikasi layanan bimbingan dan
              konseling untuk mengatasi permasalahan siswa melalui bimbingan
              kelompok guna peningkatan hasil belajar.

3.  Bagi Sekolah
              Sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah untuk dapat melaksanakan
              kegiatan layanan bimbingan kelompok dalam membantu meningkatkan
              motivasi belajar siswa.

1.5    Hipotesis
Ada ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar  siswa kelas  XI IPA I    SMA  Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran
   2009/2010.






















2.1.   Bimbingan Kelompok
2.1.1 Pengertian Bimbingan kelompok
Prayitno (1995: 178), “mengemukakan bahwa Bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok”. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya”.

Sementara Romlah (2001: 3), “mengatakan bahwa  bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencagah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa”.

Sedangkan menurut (Sukardi, 2003: 48),  “ Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat”.

Wibowo (2005: 17) menyatakan, “ bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok dimana pimpinan kelompok menyediakan  informasi- informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama”.

Dari beberapa pengertian bimbingan kelompok di atas, maka dapat  disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.
Dengan adanya kegiatan bimbingan kelompok ini maka siswa dilatih untuk berbicara dihadapan teman-temannya dalam mengemukakan pendapatnya, siswa belajar untuk menghargai  pendapat, siswa belajar memecahkan masalah dari topik yang dibahas. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar dan mempertinggi prestasi.

2.1.2  Tujuan Bimbingan Kelompok
   Ada beberapa tujuan bimbingan kelompok yang di kemukakan oleh beberapa  ahli, adalah sebagai berikut : 
Menurut Amti (1992: 108) bahwa tujuan bimbingan kelompok terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum bimbingan kelompok betujuan untuk membantu para siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Selain itu juga mengembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui berbagai suasana yang muncul dalam kegiatan itu, baik suasana yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.
Secara khusus bimbingan kelompok bertujuan untuk:
1. Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan   
    teman-   temannya.
2. Melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok
3. Melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama teman-teman
    dalam kelompok khususnya dan teman di luar kelompok pada        
    umumnya.
4. Melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan
     kelompok.
5.  Melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan orang lain.
6.  Melatih siswa memperoleh keterampilan sosial.
7.  Membantu siswa mengenali dan memahami dirinya dalam
     hubungannya dengan orang lain.
Tujuan bimbingan kelompok seperti yang dikemukakan oleh
(Prayitno, 1995: 178) adalah:
a. Mampu berbicara di depan orang banyak.
b. Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan
     lain sebagainya kepada orang banyak.
c. Belajar menghargai pendapat orang lain.
d. Bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.
e. Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan
    yang bersifat negatif).
f. Dapat bertenggang rasa.
g. Menjadi akrab satu sama lainnya.
h. Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau menjadi
     kepentingan bersama.

Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. (Sukardi, 2003: 48).
Layanan bimbingan kelompok merupakan media pengembangan diri untuk dapat berlatih berbicara, menanggapi, memberi menerima pendapat orang lain, membina sikap dan perilaku yang normatif serta aspek-aspek positif lainnya yang pada gilirannya individu dapat termotivasi untuk mengembangkan potensi diri sehingga diharapkan siswa pada akhirnya dapat  meningkatkan prestasi belajarnya.

2.1.3  Komponen Layanan Bimbingan Kelompok
      Di dalam layanan bimbingan kelompok yang berperan di dalam layanan ini adalah suasana kelompok, pemimpin kelompok dan anggota kelompok.
a.   Suasana Kelompok
Di dalam suatu kelompok, kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak dan aktif berfungsi dalam memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai tujuan. Dalam bimbingan kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok para anggota kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya. Dinamika kelompok tersebut hanya akan dapat terwujud jika kelompok tersebut benar-benar hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok serta semangat ditentukan oleh peranan anggota kelompok.
Ada lima hal yang harus diperhatikan dalam menciptakan suasana kelompok menjadi lebih baik (Prayitno, 1995:27), yaitu :
a.       Hubungan yang dinamis antar anggota kelompok.
b.      Tujuan bersama.
c.       Hubungan langsung antara besarnya kelompok dengan sifat kehidupan kelompok.
d.      Itikad dan sikap para anggota kelompok.
e.       Kemandirian.

b.      Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok adalah konselor yang terlatih dan berwenang menyelenggarakan praktik konseling professional (Prayitno, 2004:4). Pemimpin kelompok sangatlah berperan penting di dalam jalannya suatu kelompok tersebut. Pemimpin kelompok haruslah memiliki keterampilan di dalam memimpin kelompok khususnya bimbingan kelompok sehingga dapat menghidupkan dinamika kelompok dan tujuan dari bimbingan kelompok tersebut dapat tercapai.
Seorang pemimpin kelompok di dalam layanan bimbingan kelompok berperan sebagai (Prayitno, 1995:35 - 36) :
a.       Pemberi bantuan, pengarahan atau campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok.
b.      Memusatkan perhatian pada suasana perasaan yang berkembang dalam kelompok, baik itu perasaan anggota-anggota tertentu maupun perasaan keseluruhan kelompok.
c.       Memberikan arahan kepada angggota kelompok, jika kelompok tersebut tampaknya kurang menjurus kepada arah yang ingin dituju.
d.      Mengatur jalannya kegiatan kelompok.
e.       Sifat kerahasiaan dari kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.

c.       Anggota Kelompok
Merupakan salah satu unsur pokok dalam suatu kelompok dan sangatlah menentukan. Tanpa adanya anggota tidaklah mungkin ada kelompok. Kegiatan ataupun kehidupan kelompok itu sebagian besar didasarkan atas peranan para anggotanya. Peranan kelompok tidak akan terwujud tanpa keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok, dan bahkan lebih dari itu, dalam batas-batas tertentu suatu kelompok dapat melakukan kegiatan tanpa kehadiran peranan pimpinan kelompok sama sekali.
Pemilihan anggota kelompok sangatlah penting, agar dalam pelaksanaan bimbingan kelompok dapat berjalan lancar. Anggota kelompok sangat berperan dalam menentukan keberhasilan dari pelaksanaan layanan bimbingan kelompok. Jika anggota kelompok tidak bisa membina keakraban, melibatkan diri dalam kegiatan kelompok, mematuhi aturan dalam kegiatan kelompok, terbuka, membantu anggota kelompok lain, maka akan sangat sulit dalam menciptakan suasana kelompok yang baik.
Di dalam bimbingan kelompok, anggota kelompok hendaknya memainkan perannya sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Prayitno (1995:32) anggota kelompok berperan sebagai :
a.       Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
b.      Mencurahkan segenap perasaan dan melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
c.       Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
d.      Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
e.       Benar-benar berusaha untuk secara efektif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
f.        Berusaha membantu orang lain.
g.       Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalani peranannya.
h.       Menyadari pentingnya kegiatan kelompok tersebut.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, didalam suatu layanan bimbingan kelompok terdapat tiga komponen yang sangat mempengaruhi di dalam berhasil atau tidaknya suatu proses bimbingan kelompok dan akan saling menunjang satu sama lain. Ketiga komponen tersebut adalah suasana kelompok, pemimpin kelompok dan anggota kelompok.

2.1.4  Asas-asas Bimbingan kelompok
Di dalam bimbingan kelompok terdapat kaidah-kaidah (asas-asas) yang harus diperhatikan, seperti :
1.      Asas kesukarelaan, yakni semua anggota kelompok diminta secara sukarela dan tanpa ragu-ragu atau merasa terpaksa di dalam menyampaikan masalah yang dihadapinya.
2.      Asas kerahasiaan, yakni segala sesuatu yang dibicarakan di dalam kegiatan bimbingan kelompok tidak boleh disampaikan kepada orang lain, terutama hal-hal atau informasi yang tidak layak diketahui oleh orang lain
3.      Asas keterbukaan, yakni semua anggota kelompok bebas dan terbuka mengeluarkan pendapat, ide, saran dan apa saja yang dirasakan atau yang dipikirkannya.
4.      Asas kenormatifan, yakni semua yang dibicarkan dan dilakukan dalam kegiatan kelompok tidak boleh bertentangan dengan norma dan peraturan yang berlaku. Selama kegiatan berlangsung setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling menghormati dan menghargai.

Apabila asas-asas tersebut diikuti dan dapat dilaksanakan dengan baik, maka sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. Akan tetapi jika asas-asas tersebut diabaikan atau bahkan dilanggar maka sangat dikhawatirkan kegiatan konseling tidak akan dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan, bahkan juga dapat merugikan orang-orang yang terlibat di dalam bimbingan kelompok tersebut. Jadi, di dalam bimbingan kelompok terdapat beberapa asas-asas yang mengikat dalam jalannya suatu layanan bimbingan kelompok seperti asas kesukarelaan, asas kerahasiaan, asas keterbukaan dan asas kenormatifan. Asas-asas tersebut sangatlah berperan di dalam proses jalannya bimbingan kelompok, sehingga tujuan bimbingan kelompok dapat tercapai.

2.1.5. Tahap-Tahap Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok terdiri dari empat tahap, yaitu : tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran (Prayitno, 1995:40-60).
a.   Tahap pembentukan
1.      Ucapan selamat datang.
2.      Doa bersama.
3.      Pengertian bimbingan kelompok.
4.      Tujuan bimbingan kelompok.
5.      Cara pelaksanaan.
6.      Azas bimbingan kelompok.
7.      Perkenalan dilanjutkan dengan permainan.

b.      Tahap peralihan
1.      Menjelaskan kegiatan yang akan dijalani.
2.      Menanyakan apakah anggota sudah siap.
3.      Menjelaskan suasana yang terjadi dalam kelompok.
4.      Bila perlu kembali ke aspek sebelumnya.
c.       Tahap kegiatan
1.      Pemimpin kelompok mengemukakan topik bahasan.
2.      Tanya jawab hal yang belum dipahami.
3.      Anggota membahas topik sampai tuntas.
4.      Setiap anggota mengemukakan apa yang akan dilakukan setelah  membahas topik tersebut (peneguhan hasrat) dan / komitmen.
d.      Tahap pengakhiran
1.      Pemimpin mengemukakan bahwa kegiatan akan diakhiri.
2.      Pemimpin dan anggota mengemukakan kesan dan hasil kegiatan.
3.      Merencanakan kegiatan lanjutan.
4.      Pesan dan harapan.
5.      Doa penutup.



















Tahapan-Tahapan di Dalam Bimbingan Kelompok









2.2        Belajar
2.2.1  Pengertian Belajar
Dalam proses pembelajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang sangat penting. Guru pembimbing atau konselor sekolah harus dapat memahami dengan baik  tentang proses belajar, agar konselor sekolah dapat memberikan Konseling dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi dengan apa yang dibutuhkan siswa di sekolah.
Belajar merupakan usaha untuk merubah tingkah laku seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Sardiman A.M (2003 : 20): “Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, atau meniru”. Artinya bahwa belajar itu dapat menghasilkan perubahan tingkah laku yang diinginkan melalui kegiatan yang dilakukan seperti membaca, mengamati, mendengarkan atau meniru apa yang dipelajari.
Melalui belajar kita dapat mengalami suatu perubahan kearah yang lebih baik yang dapat dilihat dari pribadi manusia itu sendiri yang ditampakkan dalam bentuk perubahan peningkatan kualitas tingkah laku yang dimiliki. Belajar memberikan peningkatan akan kecakapan, pengetahuan sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir dan lain-lain.
Menurut Oemar Hamalik (1983 : 21):
 “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat penglaman dan latihan.”

Dalam hal ini bentuk pertumbuhan atau perubahan yang dimaksud adalah bertambahnya ilmu pengetahuan dalam diri seseorang yang ditandai dengan adanya perubahan perilaku. Dari kedua pendapat diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa peningkatan kualitas perubahan tingkah laku pada dirinya dari keadaan sebelum ia belajar dan penguasaan materi ilmu pengetahuan.

2.2.2 Tujuan Belajar
   Dalam usaha pencapaian tujuan belajar, perlu diciptakan sistem lingkungan atau kondisi belajar yang lebih kondusif dan mendukung terlaksananya proses kegiatan mengajar denagn baik. Dalam hal ini Sardiman A.M. (2003 : 26) berpendapat bahwa tujuan belajar terdiri dari 3 jenis yaitu:
1.      Untuk mendapatkan pengetahuan
Seseorang belajar ingin mendapatkan sesuatu hal yang baru, dalam hal ini berupa pengetahuan dan wawasan yang dapat berguna dalam mengembangkan pola pikir dan kepribadian dalam menghadipi segala hal.  
2.      Penanaman konsep dan keterampilan
Melalui belajar kita dapat memilki konsep dan keterampilan yang dimiliki. Kita dapat mengembangkan apa yang kita miliki baik itu potensi diri dan keterampilan-keterampilan yang diperoleh dari hasil belajar.
3.      Pembentukan sikap 
Sikap yang baik dalam menyikapi segala hal dapat diperoleh dari hasil belajar, karena belajar merupakan suatu usaha untuk mengubah suatu tindakan atau perilaku yang diinginkan melalui pengalaman dan latihan.
           
Siswa yang memiliki ketiga tujuan belajar tersebut diatas akan lebih mudah dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dikelas, karena ketiga tujuan belajar yang terlah uraikan diatas dapat diketahui motivasi instrinsik dari siswa untuk belajar sudah terbentuk. Tujuan belajar itu terbentuk karena adanya kebutuhan dan motivasi dari siswa. Dengan demikian belajar itu berorientasi kepada tujuan siswa dalam belajar.
2.2.3  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
 Belajar merupakan suatu proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku siswa, banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari banyak faktor yang mempengaruhi tersebut dapat dibagi menjai dua faktor yaitu:
1.      Faktor Internal
Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Faktor internal ini terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis yaitu kondisi jasmani yang mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Faktor psikologis yaitu faktor rohaniah seperti tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat dan motivasi siswa.
2.      Faktor Eksternal
Faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial. Faktor sosial seperti lingkungan sekolah yang mempengaruhi semangat belajar siswa, kondisi dan keadaan lingkungan masyarakat dan teman-teman di tempat tinggal siswa, dan yang paling mempengaruhi adalah lingkungan dari keluarga atau orang tua siswa itu sendiri dilihat dari sifat-sifat orang tua dan pengelolaan terhadap keluarga. Faktor lingkungan nonsosial yaitu gedung sekolah, jarak rumah tempat tinggal siswa, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu yang digunakan saat siswa belajar. Faktor lingkungan sosial maupun faktor lingkungan nonsosial sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa baik dilingkungan sekolah maupun dilingkungan rumah. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dan mendukung dalam pelaksanaan kegiatan belajar siswa.

2.2.4  Motivasi
   Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Sesuai dengan pendapat Gleitman dan Reber (1986 : 136): Motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. Seseorang akan memiliki dorongan yang timbul dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang diinginkan agar tercapai.
Dalam dunia pendidikan, motivasi belajar  yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi yang timbul dari dalam diri sendiri. Kerena lebih murni dan akan tahan lama serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Dorongan untuk mencapai prestasi dan dorongan untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, memberikan pengaruh yang kuat dan relative lebih lama dibandingkan dengan dorongan keharusan dari orang tua dan guru.

2.2.5   Pengertian Motivasi Belajar
Siswa yang memiliki tujuan dalam belajar akan memiliki kesadaran dari dalam dirinya sendiri untuk dapat melaksanakan kegiatan belajar dengan harapan tujuan belajar yang diinginkan dapat tercapai. Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai, maka harus ada dorongan dari dalam diri individuitu sendiri. Menurut pendapat Sardiman A.M (2003 : 27) “ Motivasi adalah daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, sebagai tujuan yang dikehendaki segera tercapai”.
Apabila siswa memilki motivasi belajar yang tinggi, maka kemampuan dalam belajarnya akan semakin tinggi seperti yang dikemukakan oleh Thursan  dalam Hakim (2005 : 26): “ Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu”.
   Hamzah (2007:1) menjelaskan bahwa motivasi merupakan dorongan dasar yang menggerakkan seseorang untuk bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya. Sutadipura (2005:114) menyatakan bahwa motivasi merupakan  suatu  proses,  yaitu :
1.      Membimbing anak-anak didik ke arah pengalaman-pengalaman, yang kegiatan belajar itu dapat berlangsung.
2.      Memberikan kepada anak-anak didik, kekuatan dan aktivitas serta memberikan kepadanya kewaspadaan yang memadai.
3.      Pada suatu saat mengarahkan perhatian mereka terhadap suatu tujuan.

Winkel (1987:73) mengemukakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu, maka tujuan yang dikehendaki siswa tercapai.
Prayitno (1989:8) berpendapat bahwa:
Motivasi belajar tidak saja merupakan suatu energi yang menggerakkan siswa untuk belajar, tetapi juga sebagai suatu yang mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan belajar.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa motivasi belajar adalah suatu usaha yang timbul dari dalam diri siswa agar tumbuh dorongan untuk belajar dan tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai.

2.2.6  Macam-Macam Motivasi Belajar
Motivasi belajar yang ada pada setiap siswa dalam melakukan suatu kegiatan berbeda satu dengan yang lainnya. Selain itu, dalam melakukan suatu kegiatan, seorang siswa dapat mempunyai motivasi lebih dari satu macam motivasi dalam belajarnya. Karena itu motivasi terdiri dari berbagai macam.
Menurut Sardiman A.M (2003 : 86) macam-macam motivasi belajar adalah:
1.      Motivasi instrinsik, yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dari dalam diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
2.       Motivasi ekstrinsik, yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar.

Macam-macam motivasi yang telah disebutkan diatas semua pada akhirnya adalah untuk mencapai apa yang menjadi tujuan untuk memenuhi kebutuhan dengan adanya dorongan baik dari dalam maupun dari luar. Motivasi sangatlah diperlukan, karena dengan adanya motivasi siswa dapat mengembangkan aktifitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam kegiatan belajar, yang terutama adalah motivasi yang timbul dari dalam diri inidividu itu sendiri.

2.2.7  Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Motivasi dalam belajar mempunyai peranan yang sangat besar pengaruhnya untuk mendorong kegiatan belajar siswa khususnya yang memilki perilaku-perilaku maladaptive dan menyimpang sehingga perilaku tersebut mengganggu proses belajar siswa. Menurut Sadiman A.M. (2003 : 85) fungsi dari motivasi adalah:
1.      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motorik    yang melepaskan energi.
2.      Menentukan arah perbuatan kearah yang hendak dicapai.
3.      Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
               harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan
               perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Dalam hal ini fungsi motivasi menandakan perubahan kearah yang lebih baik yang timbul dari dalam dan luar dari seseorang khususnya dalam hal belajar bagi siswa. Sesuai dengan pendapat diatas maka diharapkan anak didik memiliki motivasi yang tinggi, sebab dengan motivasi yang tinggi akan sangat membantu siswa tersebut untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Diharapkan juga kepada guru mata pelajaran dan guru pembimbing memberikan perhatian yang dapat menumbuhkan motivasi belajar dengan menggunakan indikator-indikator yang dikemukakan oleh Abin Syamsudin Makmun (2000 : 40), yaitu meliputi hal-hal yang perlu diukur :
1.      Durasi kegiatan (berapa lama kemampuan penggunaan waktunya)
2.      Frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu
3.      Persistensi (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan belajar
4.      Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan
5.      Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, fikiran, bahkan jiwanya atau nyawanya) untuk mencapai tujuan
6.      Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target, dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan
7.      Tingkatan kualifikasi prestasi atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak)
8.      Arah, sikapnya terhadap sasaran kegiatan

Motivasi belajar siswa adalah salah satu faktor untuk meningkatkan belajar siswa di sekolah, maka dalam hal ini Sardiman A.M, (2003 : 83) mengemukakan beberapa indikator yang ada dalam motivasi belajar siswa, yaitu :
1.      Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2.      Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3.      Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4.      Lebih senang bekerja mandiri.
5.      Cepat bosan dengan tugas-tugas rutin.
6.      Dapat mempertahankan pendapatnya.
7.      Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.
8.      Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

Motivasi dapat ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperhatikan hal-hal yang dapat diukur dalam motivasi. Dengan demikian siswa memiliki kesadaran untuk memiliki motivasi dalam mengikuti dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

2.2.8  Peranan Motivasi Dalam Belajar dan Cara Meningkatkan Motivasi Belajar

Peranan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting dan memiliki pengaruh amat besar terhadap apa yang akan diperoleh siswa dalam hal ini lebih ditekankan pada tingkat prestasi dan keberhasilan siswa dalam belajar.
Menurut Sardiman A.M. (2003 : 78-80) motivasi sangat berperan dalam belajar karena mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
1.      Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan siswa. Belajar tanpa motivasi sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal.
2.      Pembelajaran yang termotivasi pada hekekatnya adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan motif, minat yang ada pada diri siswa.
3.      Pembelajaran yang termotivasi menurut kreatifitas dan imajinitas guru untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa.
4.      Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakan motivasi dalam proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin kelas yang mengakibatkan timbulnya perilaku maladatif dari diri siswa.
5.      Penggunaan asas motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam proses belajar dan pembelajaran. Motivasi menjadi salah satu faktor yang turut menentukan pembelajaran yang efektif.

Dengan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam motivasi akan lebih mudah menimbulkan kesadaran bagi siswa dalam meningkatkan motivasi belajarnya. Sehingga siswa secara sadar dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa adanya paksanaan dari pihak lain.

2.2.9        Bimbingan Kelompok dengan Motivasi Belajar
Dengan adanya pelaksanaan bimbingan kelompok peneliti akan memanfaatkan suasana kelompok dengan komunikasi yang multiarah di antara anggota kelompok, sehingga akan didapatkan informasi dan pemecahan masalah yang akan bermanfaat bagi anggota kelompok dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Motivasi belajar yang akan dibuat dalam penelitian ini, akan didapatkan pemecahan masalahnya melalui bimbingan kelompok. Pemecahan masalah ini sendiri berasal dari hasil pembahasan anggota kelompok tersebut.





















C. Metodologi Penelitian
3.1.   Jenis penelitian
   Penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian eksperimen. “Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor yang lain yang bisa mengganggu” (Arikunto, 2003:3).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pre-eksperimental design (pre test-post test design) karena di dalam penelitian ini tidak menggunakan kelompok kontrol / kelompok pembanding.




01        X       02
           


Keterangan :
01         :  Pre-test  (Pengukuran /Observasi pertama,  bertujuan untuk mengetahui
              sejauh mana motivasi belajar siswa sebelum di beri layanan.

X          : Perlakuan (pemberian layanan bimbingan kelompok kepada siswa kelas
               XI IPA I  yang diketahui memiliki motivasi belajar rendah berjumlah 8
               orang siswa)

02         :  Post-test ( Pengukuran/observasi kedua) bertujuan untuk mengetahui
    apakah ada perubahan atau pengaruh pemberian layanan bimbingan
               kelompok terhadap motivasi belajar  sesudah di beri layanan bimbingan 
                kelompok dengan skala motivasi belajar yang sama dengan pengukuran
                yang pertama.          
Untuk memperjelas eksperimen dalam penelitian ini disajikan tahap-tahap rancangan eksperimen yaitu :
1. Melakukan pre-test adalah pemberian tes kepada calon subjek penelitian
             sebelum diadakan perlakuan yaitu bimbingan kelompok. Pre-tes di lakukan di kelas XI IPA I kepada seluruh siswa.
2. Menganalisis hasil pre-test.
3. Penentuan subjek penelitian dalam kelompok eksperimen berdasarkan
    hasil  pre-test. 8 orang siswa yang memiliki skor motivasi belajar
    terendah di kelas.
4. Menginformasikan hasil pre-test dan mengkomunikasikan jadwal BKp     kepada   subjek penelitian.
5. Memberikan perlakuan yaitu layanan bimbingan kelompok sebanyak 2
    kali  pertemuan.
6. Melakukan post-test sesudah pemberian layanan bimbingan kelompok  dengan  tujuan untuk mengetahui hasil apakah layanan bimbingan kelompok      
   berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.
7. Proses analisis data, yaitu dengan menggunakan Uji t hitung

3.2.  Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Indralaya kelas XI IPA I Kabupaten ogan Ilir.

3.3  Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas kelas XI IPA I Kabupaten ogan Ilir tahun ajaran 2009/2010 yang memiliki motivasi belajar yang rendah. Setelah diadakan penyebaran angket, akan dipilih 8 siswa yang memiliki motivasi belajar paling rendah untuk melaksanakan bimbingan kelompok.
Guna mengetahui jumlah subyek penelitian terhadap siswa-siswi yang memiliki motivasi belajar yang rendah, peneliti kemudian melakukan penyebaran angket motivasi belajar berdasarkan  kisi-kisi motivasi belajar.


3.4 Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan gejala yang menjadi obyek penelitian.
Menurut Fraenkel dan Wallen dalam Yatim Riyanto (2001:9), variabel adalah “suatu konsep benda yang bervariasi.” Konsep yang bervariasi ini akan diukur atau diidentifikasi perbedaan-perbedaannya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode eksperimen. Menurut Suharsimi Arikunto (2006:97), “penelitian eksperimen melihat pengaruh sesuatu treatment, maka ada variabel yang mempengaruhi dan variabel akibat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X), sedangkan variabel akibat disebut variabel terikat atau dependent variable (Y).”
Berdasarkan pendapat di atas, maka variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X) adalah Layanan Bimbingan Kelompok dan variabel akibat disebut variabel terikat atau dependent variable (Y) adalah Motivasi Belajar.

3.5 Definisi Operasional Variabel
1.      Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah dorongan dari diri siswa yang menimbulkan kegiatan serta arah belajar untuk mencapai tujuan belajar yang dikehendaki siswa yang di tandai dengan durasi kegiatan, frekuensi kegiatan, persistensi, ketabahan, keuletan, kemampuan dalam menghadapi rintangan, devosi, dan pengorbanan untuk mencapai tujuan, tingkatan aspirasi yang hendak dicapai, tingkatan kualifikasi prestasi, arah, dan sikap terhadap sasaran kegiatan.
Menurut Abin Syamsudin Makmun (2000:40) indikator-indikator motivasi belajar adalah:
1.      Durasi kegiatan (berapa lama kemampuan penggunaan waktunya)
2.      Frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu
3.      Persistensi (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan belajar
4.      Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan
5.      Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, fikiran, bahkan jiwanya atau nyawanya) untuk mencapai tujuan.
6.      Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target, dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan
7.      Tingkatan kualifikasi prestasi atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak)
8.      Arah, sikapnya terhadap sasaran kegiatan

2.      Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.

3.6.   Instrumen Pengumpulan Data
3.6.1.   Angket
Angket merupakan alat pengumpulan data yang dilaksanakan secara tertulis yang diisi oleh responden atau subyek penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto (2002:128), angket adalah “sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.” Pertanyaan tersebut mengandung informasi mengenai segala hal yang berhubungan dengan subyek penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan angket tertutup yaitu angket yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih dengan bentuk pilihan ganda. Dalam kriteria dari angket tersebut dibuat dengan tiga alternatif jawaban yaitu (a),(b),(c), yang setiap jawaban diberi skor masing-masing dengan kriteria menurut Mohammad Nazir (1983:409), sebagai berikut:
        “1. Untuk jawaban yang baik sesuai dengan harapan diberi skor tinggi (3)
         2. Untuk jawaban yang kurang sesuai harapan diberi skor sedang (2)
         3. Untuk jawaban yang tidak sesuai dengan harapan diberi skor rendah (1)”

3.6.2.   Observasi
Observasi/pengamatan merupakan kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra (Arikunto, 2006:156). Dalam penelitian ini metode observasi digunakan untuk melihat apakah ada pengaruh antara layanan bimbingan kelompok terhadap siswa yang dikenai layanan bimbingan kelompok.
Hal yang di amati dalam penelitian ini adalah bagaimana dinamika kelompok, situasi anggota kelompok pada saat berlangsungnya proses bimbingan kelompok, keaktifan dari masing-masing anggota kelompok dalam mengemukakan pendapatnya.

3.7 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
a. Uji Validitas Instrumen
Validitas adalah suatu ukuran  yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Menurut Suharsimi Arikunto (2002), validitas suatu instrumen dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
a.       Validitas ramalan (Predicty Validity)
b.      Validitas bandingan (Concurent Validity)
c.       Validitas isi (Content Validity)
d.      Validitas susunan (Construct Validity)
Penulis menggunakan validitas susunan (Construct Validity) artinya instrumen dikonstruksikan dengan para ahli dengan cara dimintai pendapatnya mengenai aspek-aspek yang diukur berdasarkan teori tertentu, sedangkan analisis butir soal dilakukan dengan analisis faktor yaitu, dengan mengkorelasikan antara skor item dengan skor total dengan rumusan korelasi Pearson Product Moment sebagai berikut:


Keterangan:
rhitung = koefisien korelasi
n        = jumlah responden
∑x      = jumlah skor item
∑y      = jumlah skor total

selanjutnya dihitung dengan uji signifikansi dengan rumus:
Keterangan:
t  = nilai thitung
r  = koefisien korelasi hasil rhitung
n = jumlah responden
Distribusi (tabel t) untuk = 0,05 dan derajad kebebasan (dk = N-2)
Kaidah keputusan:
Jika t hitung > t tabel berarti valid
Jika t hitung < t tabel berarti tidak valid

b. Uji Reliabilitas
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:142) dalam bukunya yang berjudul Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat dipergunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Dalam penelitian ini uji reliabilitas dihitung dengan menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS) dengan analisis reliabilitas analysis scale (alpha). Tingkat reliabilitas angket dapat dilihat dengan menggunakan teknik Cronbach Alpha (α) sebagai berikut:

Keterangan:
k                = Jumlah butir tes
         = Jumlah skor varians dari masing-masing item
        = Varians skor total

Untuk mengetahui tinggi rendahnya reliabilitas menggunakan kriteria sebagai berikut:
0,90 – 1,00           = reliabilitas tinggi
0,50 – 0,89           = reliabilitas sedang
0,00 – 0,49           = reliabilitas rendah

3.8 Teknik Analisis Data
Setelah diperolehnya seluruh data-data yang dibutuhkan, maka langkah selanjutnya adalah pengolahan data dan analisis data. Adapun analisis data yang penulis gunakan adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mendukung pengolahan data dengan rumus t hitung  (Suharsimi Arikunto; 2002), sebagai berikut:

Keterangan:
Md             = Mean dari deviasi (d) antara post test dan pre test
xd              = Perbedaan deviasi dengan mean deviasi (d-Md)
∑x2d          = Jumlah kuadrat deviasi
N               = Banyaknya subjek
df               = atau db adalah N - 1
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.            Hadis, Abdul. 2006. Psikologi Dalam Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Hamzah, Uno. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di
     Bidang  Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta.
Mudjiono & Dimyati. (1994). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta
Makmun, Abin Syamsudin. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Posdakarya
Prayitno dan E.Amti. 2004. Dasar-dasar bimbingan dan konseling. Jakarta
      : rineka Cipta.
Prayitno. 2001. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan
      Konseling di  Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.  
 Riduwan. (2006). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan
     Peneliti  Pemula. Bandung: Alfabeta.
Sardiman. A.M. (2007). Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja  
     Grafindo: Jakarta.
Winkel, W.S. (1987). Bimbingan dan Konseling di institusi Pendidikan.
      Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar