Selasa, 31 Agustus 2010

DAFTAR HARGA R PRODUK MOMENT DAN NILAI NILAI DISTRIBUSI T

Sumber:
Riduwan. (2006). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan
          Peneliti  Pemula. Bandung: Alfabeta.

uji validitas dan reabilitas menggunakan SPSS 17 oleh ambran san BK Unsri 2006


Cara penggunaan spss
Menghitung Validitas
  1. klik analisis
  2. correlate
  3. bivariate
  4. pindahkan ke samping
  5. oke

criteria valid apabila pada sig2taitel (sig 0,05) < 0,05


setelah di  ujikan validitasnya maka item yang tidak valid makan di buang tidak di ikut sertakan lagi untuk uji reliabilitas

mencari Reliable
  1. blog skor item kecuali total
  2. klik analisis
  3. scale
  4. reliable analis
  5. blog semua
  6. pindahkan ke kolom samping
  7. statistik  (conteng item scale, slace if item deleted,)
  8. continue
  9. ok

Untuk mengetahui item soal tersebut reliabel atau tidak maka saya akan membandingkan hasi dari Cronbach's Alpha   (r hitung) dengan r tabel untuk jumlah …. responden. Apabila r hitung lebih besar dari pada r table (biasanya ada di belakang buku metodologi penelitian seperti prof.Suharsimi Arikunto/ Ridwan/ prof Sugiono)maka dapat dikatakan instrumen pengukuran tersebut reliabel.

contoh uji pegujian reliabilitas
KESIMPULAN HASIL PENGELOLAHAN UJI RELIABELITAS INSTRUMEN DENGAN SPSS

            Berdasarkan hasil uji coba instrumen penelitian secara keseluruhan dengan menggunakan SPSS 17 diketahui r hitung = 0,605 > 0,339 maka dapat dikatakan instrumen pengukuran tersebut reliabel.


Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
  .605
41

Ket: 0,339 adalah r tabel untuk jumlah 34 responden



Normalitas :
  1. blog data dari no 1 sampai terakhir ( pindahkan ke program spss)
  2. analis
  3. non parametik tes
  4. 1 sample k – s
  5. pindahkan
  6. oke (untuk melihat normalitas data lihat kolom asymp.sig (2 tailed)
 

 Homogen :
  1. blog total X dan Y (pindahkan ke program spss)
  2. Analist
  3. compare means
  4. one way ANOVA
  5. pindahkan ke samping
  6. Variabel Y pindahkan ke dependent list dan variabel  X pindahkan ke factor
  7. Klik option
  8. conteng homegonneity
  9. continue
  10. oke


Levene
Statistik
df 1
df 2
Sig








Perhatikan table leveno statistik dan sig



KOEFISIEN KORELASI (blog total variabel X dan Y pindahkan ke progam SPSS)
1.      Analist
2.      correlate
3.      bivariate
4.      pindahkan
5.      oke


(sumber : 1. berdasarkan buku :Wahana komputer,2009.Panduan Praktis SPSS 17 Untuk Pengolahan data Statistik.Yogyakarta:Penerbit Andi.
2. Berdasarkan Praktek secara langsung oleh Amran dijamin Nggak bakalan salah 99 % benar

Pesan: saya buatkan langkah2 ini agar memudahkan para mahasiswa dalam mengolah data terutama untuk penelitian yang menggunakan metodologi statistik, Korelasi, eksperimen , serta untuk menguji validitas dan reabilitas instrumen penelitian. Semoga amal ibadah saya di terima Allah SWT. 

KUTIPAN " Sodakoh jariah, anak yang saleh & ilmu yang bermanfaat adalah salah satuh amal yang tak putus , jangan takut ilmu bila di Share tidak akan habis,
share be happy 
salam sukses luar biasa

By Ambran San, S.Pd.




meskipun kita telah meninggal dunia


pelaksanaan Bimbingan kelompok di sekolah sma n 1 indralaya


A. PENGERTIAN Bimbingan kelompok (BKP)

Pelayanan konseling dan bimbingan kelompok sama-sama menggunakan format kelompok.
Bimbingan kelompok adalah salah satu kegiatan layanan yang paling banyak dipakai karena lebih efektif. Banyak orang yang mendapatkan layanan sekaligus dalam satu waktu. Layanan ini juga sesuai dengan teori belajar karena mengandung aspek social yaitu belajar bersama. Peserta layanan akan berbagi ide dan saling mempengaruhi untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya. 150 orang menjadi 12 kelompok layanan yang hendaknya dilaksanakan oleh konselor sekolah. Layanan Konseling kelompok ada 2 macam yaitu konseling dan bimbingan kelompok. Yang sangat menentukan keefektifan layanan kelompok adalah suasana kelompok yang:

- Interaksi yang dinamis

- Keterikatan emosional

- Penerimaan

- Altruistik, mengutamakan kepedulian terhadap orang lain

- Intelektual (rasional, cerdas dan kreatif). Menambah ilmu dan wawasan individu serta dapat menumbuhkan ide-ide cemerlang.
- Katarsis (mengemukakan uneg-unegnya, idenya dan gagasannya). Menyatakan emosinya yang lebih mengarah pada pengungkapan pmasalah yang dipendam.
- Empati (suasana yang saling memahami tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan sehingga dapat menyesuaikan sikapnya dengan tepat).

Hal ini diciptakan melalui pentahapan dan kemampuan pemimpin kelompok.

Perbedaan antara Bimbingan dan Konseling Kelompok umumnya adalah ada pada masalah yang dibahas. Masalah Bimbingan kelompok biasanya membahas masalah-masalah umum bagi peserta layanan. Jika suasana kelompok belum tercipta maka sulit bagi peserta layanan untuk mengungkapkan masalah pribadinya sehingga konseling kelompok agak sulit pelaksanaannya dibanding Bimbingan kelompok. Dari itu, Bimbingan kelompok sangat menentukan pelaksanaan konseling kelompok. Pelaksanaan layanan dapat dilaksanakan dimana saja asal tidak mengganggu proses layanan dimana dinamika kelompok berlagsung maksimal dalam mencapai tujuan

B. TUJUAN

Umum: mengembangkan kepribadian siswa dimana berkembang kemampuan sosialisasinya, komunikasinya, kepercayaan diri, keperibadian, dan mampu memecahkan masalah yang berlandaskan nilai ilmu dan agama.

Khusus:

1. Membahas topic yang mengandung masalah actual, hangat dan menarik perhatian anggota kelompok.
2. Konseling kelompok membahas masalah pribadi individu

C. KOMPONEN

1. Konselor: sebagai pemimpin kelompok dengan kemampuan

· Menciptakan suasana kelompok sehingga terciptanya dinamika kelompok

· Berwawasan luas (ilmiah dan moral).
Mampu membina hubungan antarpersonal yang hangat, damai, berbagi, empatik, altruistik, jauh dari kesukaaan
untuk membuat kelompok.

Peranan PK:

· Membentuk kelompok

· Melakukan penstrukturan

· Mengembangkan dinamika kelompk

· Mengevaluasi proses dan hasil belajar

Jumlah kelompok: 8-10 orang dengan memperhatikan homogenitas dan heterogenitas kemampuan anggota kelompok. Kemampuan dengan perbandingan 2:1 antara yang pintar atau kurang pintar. Dari segi jenis pria atau wanita yaitu 1:1.

Peran anggota kelompok:

1. Aktif, mandiri melaui aktivitas langsung melalui sikap 3M (mendengar dengan aktif, memahami dengan positif
dan merespon dengan tepat), sikap seperti seorang konselor.

2. Berbagi pendapat, ide dan pengalaman

3. Empati

4. Menganalisa

5. Aktif membina keakraban, membina keikatan emosional

6. Mematuhi etika kelompok

7. Menjaga kerahasiaan, perasaan dan membantu serta

8. Membina kelompok untuk untuk menyukseskan kegiatan kelompok.

D. ASAS

Dalam Bimbingan kelompok, asas yang dipakai:

1. Kesukarelaan

Tidak ada pemaksaan dalam mengemukakan pendapat.

2. Keterbukaan

Adalah keterusterangan dalam memberikan pendapat.

3. Kegiatan

Partisipasi semua anggota kelompok dalam mengemukakan pendapat sehingga cepat tercapainya tujuan Bimbingan
kelompok.

4. Kenormatifan

Aturan dalam menyampaikan ide dan gagasan hendaknya dengan baik, benar, gaya bahasa yang menyenangkan, tidak
menyalahkan anggota kelompok.

5. Kerahasiaan : ini terakhir karena topic (pokok bahasan) bersifat umum.


Dalam konseling kelompok, asas yang dipakai :

1. Kerahasiaan

Karena membahas masalah pribadi anggota (masalah yang dirasakan tidak menyenangkan, mengganggu perasaan,
kemauan dan aktifitas kesehariannya).

2. Kesukarelaan

3. Keterbukaan

Semua anggota kelompok adalah konselor terhadap anggota yang dibahas masalahnya.

4. Kegiatan

5. Kenormatifan


Pembentukan kelompok untuk satu kelas:

1. Sederhana

Dengan menghitung dalam satu kelas.

2. Lebih rasional

· Siswa dibagi dalam kelompok dengan kriteria tertentu seperti: hasil AUM PTSDL atau UMUM, tes, jenis kelamin, hasil sosiometri.

Hal yang dipertimbangkan pembentukan kelompok :

1. Homogenitas secara relative (ex: kesamaan jauh dekat tempat tinggal).

Hal yang perlu diperhatikan: jika ingin Kelompok yang sama: maka didahulukan dengan Bimbingan kelompok lalu dilanjutkan dengan konseling kelompok. Pemimpin kelompok yang sama akan menjadikan kelompok lebih dinamis, efektif, efisien
2. Heterogenitas (ex: perbedaan sosio-ekonomi)

3. Sumber pertimbangan: himpunan data dan hasil instrumentasi.

4. Penempatan dalam kelompok: berupa penugasan, penetapan secara acak dan pilihan individu/anggota.

Jenis anggota kelompok: ada Kelompok tertutup yaitu anggota tetap dan tidak berubah jumlah anggota dan Kelompok terbuka yaitu anggota bergantian dan tidak menetapkan.
Perbedaan BKp dan KKp :
Pengertian BKp adalah sejumlah orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. BKp agar Pemahaman dan informasi baru
KKp agar Pengentasan masalah pribadi anggota kelompok

Tahap-tahap Bimbingan kelompok :

A. PEMBENTUKAN

Anggota Kelompok hendaknya:

1. Mengetahui tujuan dibentuknya kelompok.

2.

B. PERALIHAN: untuk meninjau pemahaman anggota kelompok terhadap apa yang akan dilaksanakannya seperti
masih ragu-ragu untuk mengikuti layanan konseling kelompok. Lihat suasana dan situasi anggota keloompok.

C. KEGIATAN

Pelaksanaan

D. PENGAKHIRAN : mengecek apa yang telah dicapai anggota kelompok (evaluasi). Penyampaian kesan dan
pesan serta menanyakan kapan akan dilaksanakan layanan Konseling kelompok kembali.


Isi layanan:

Bimbingan kelompok: Tugas (membahas tentang topik yang duberikan oleh PK) ex: pembahasan tentang situs porno.
Hal yang dipertimbangkan adalah kemampuan dan tingkat perkembangan anggota kelompok. Dan bebas (topic diberikan oleh anggota kelompok untuk dibahas dalam kelompok) ini adalah kesempatan yang disediakan oleh konselor kepada anggota kelompok untuk menyampaikan pendapatnya.
Dalam konseling kelompok adalah membahas masalah individu. Setiap anggota menyampaikan permasalahannya, namun tidak harus semua anggota kelompok. Jika telah terkemukakan masalah, maka perlu dibahas dan dimusyawarahkan masalah siapa yang terlebih dahulu masalahnya dibahas.



Teknik

UMUM:

1. Bagaimana menciptakan dinamika kelompok melalui komunikasi yang terarah, dinamis dan menyeluruh pada semua anggota kelompok (komunikasi multiarah) yang efektif, terkendali.

2. Pemberian rangsangan agar anggota berinisiatif mengemukakan pendapat untuk berdiskusi.

3. Dorongan minimal agar anggota kelompok terus beraktivitas

4. Penjelasan lebih mendalam tentang pendapat yang dikemukakan.

5. Pelatihan terhadap tingkah laku baru bagi anggota kelompok.


Kegiatan selingan: permainan-permainan yang fungsinya: selingan, pembinaan, mengintrospeksi diri.
Jika permasalahan individu belum terpecahkan dalam kegiatan konseling kelompok maka bisa diteruskan dengan pelayanan konseling individual. Seorang PK tidak perlu tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah yang ada, karena masalah hendaknya didalami dengan baik, mencari waktu selain waktu belajar. Penilaian terhadap sasaran layanan hendaknya jelas apa yang ingin dinilai, sehingga bisa menentukan instrumentasi evaluasi yang akan dipakai. Seorang konselor menilai dengan assesmen berupa komentar dengan nilai normatif seperti A, B, C atau Baik, Cukup, Kurang. Konselor hendaknya mampu mengembangkan kepribadian

sumber : http://fitribk05unsri.co.nr/

bk POLA 17 +

TUGAS POKOK GURU PEMBIMBING ADALAH

A. Menyusun Program
B. Melaksanakan Program
C. Evaluasi Pelaksanaan BK
D. Analisis Hasil Pelaksanaan BK
E. Tindak Lanjut Pelaksanaan Prog./ Polo Up



I. BIDANG BIMBINGAN
a. Bimb.Pribadi
b. Bimb. Sosial
c. Bimb. Belajar
d. Bimb.Karier

II. JENIS LAYANAN
a. Lay. Orientasi
b. Lay. Informasi
c. Lay. Penempatan dan penyaluran
d. Lay. Pembelajaran
e. Lay. Konselins Individual
f. Lay. Konseling Kelompok
g. Lay. Bimbingan Kelompok
h. Lay. Konsultasi
i. Lay. Mediasi

III. KEGIATAN PENDUKUNG
a. Aplikasi Instrumentasi Bimb.
b. Penyelengaraan Himp Data
c. Konfrensi Kasus
d. Kunjumgan Rumah
e. Alih Tangan Kasus

IV. FUNGSI BK
a. Pemahaman
b. Pencegahan/Prepentif
c. Pengentasan/Kuratif
d. Pemeliharaan/Pengembangan
e. Advokasi/Pembelaan

V. PRINSIP DAN AZAS BK
A.Prinsip berkenaan dengan :
a. Sasaran layanan
-.Semua siswa tidak pilih kasih
-.Tahapan-tahapan perkembangan
-.Memperhatikan adanya perbedaan indiv
b. Permasalahan :
-.Mental,fisik,penyesuaian diri,td diterima oleh temennya
-.Kesenjangan ekonomi
c.Program :
-.Integral dr pdd dan perkembangan indiv
-.Pleksibel,sesuai dg situasi setempat di sklh tsb

d. Tujuan dan pelaksanaannya
-.Diarahkan utk pengembangan indiv scr optimal
( sesuai dg kapasitas yg ada pd siswa /self helf/kemampuan siswa
utk membantu dirinya sendiri )
-.Mengambil keputusan atas kemauan siswa sendiri
( ada kedewasaan pd diri siswa tanpa ada paksaan dr or lain )
-.Pelaksanaanya dilakukan oleh tenaga ya=g propesional utk
membantu memecahkan mslh siswa
-.Kerjasama dengan pihak terkait ( kepsek,waka guru bid stud , wl
kls,psicol.ortu )

B. A Z A S BK
1. Kerahasiaan
2. Kesukarelaan
3. Keterbukaan
4. Kegiatan
5. Kemandirian
6. Kekinian
7. Keterpaduan
8. Kedinamisan
9. Kenormatipan
10. Alih tangan kasus
11. Keahlian
12. Tut Wuri Handayani
kenang2 pelaksanaan BIMBINGAN KELOMPOK dg para siswa

suasana seusai Treatmen BKP di sekolah
sma N 1 indralaya

data bab 3 skripsi amran

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis penelitian
Penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian eksperimen. “Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor yang lain yang bisa mengganggu” (Arikunto, 2003:3).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pre-eksperimental design (One Group pre test-post test design) karena di dalam penelitian ini tidak menggunakan kelompok kontrol / kelompok pembanding.




Keterangan :
01 : Pre-test (Pengukuran /Observasi pertama, bertujuan untuk mengetahui
sejauh mana motivasi belajar siswa sebelum di beri layanan.

X : Perlakuan (pemberian layanan bimbingan kelompok kepada siswa kelas
XI IPA I yang diketahui memiliki motivasi belajar rendah berjumlah 8
orang siswa)

02 : Post-test ( Pengukuran/observasi kedua) bertujuan untuk mengetahui
apakah ada perubahan atau pengaruh pemberian layanan bimbingan
kelompok terhadap motivasi belajar sesudah di beri layanan bimbingan
kelompok dengan skala motivasi belajar yang sama dengan pengukuran
yang pertama.
Untuk memperjelas eksperimen dalam penelitian ini disajikan tahap-tahap rancangan eksperimen yaitu :
1. Melakukan pre-test adalah pemberian tes kepada calon subjek penelitian
sebelum diadakan perlakuan yaitu bimbingan kelompok. Pre-tes di lakukan di
kelas XI IPA I kepada seluruh siswa.
2. Menganalisis hasil pre-test.
3. Penentuan subjek penelitian dalam kelompok eksperimen berdasarkan hasil
pre-test. 8 orang siswa yang memiliki skor motivasi belajar terendah di kelas.
4. Menginformasikan hasil pre-test dan mengkomunikasikan jadwal BKp kepada subjek penelitian.
5. Memberikan perlakuan yaitu layanan bimbingan kelompok sebanyak 2 kali
pertemuan.
6. Melakukan post-test sesudah pemberian layanan bimbingan kelompok dengan tujuan untuk mengetahui hasil apakah layanan bimbingan kelompok
berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.
7. Proses analisis data, yaitu dengan menggunakan Uji t hitung

3.2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Indralaya kelas XI IPA I Kabupaten ogan Ilir.

3.3 Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas kelas XI IPA I Kabupaten ogan Ilir tahun ajaran 2009/2010 yang memiliki motivasi belajar yang rendah. Setelah diadakan penyebaran angket, akan dipilih 8 siswa yang memiliki motivasi belajar paling rendah untuk melaksanakan bimbingan kelompok.
Guna mengetahui jumlah subyek penelitian terhadap siswa-siswi yang memiliki motivasi belajar yang rendah, peneliti kemudian melakukan penyebaran angket motivasi belajar berdasarkan kisi-kisi motivasi belajar.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan gejala yang menjadi obyek penelitian.
Menurut Fraenkel dan Wallen dalam Yatim Riyanto (2001:9), variabel adalah “suatu konsep benda yang bervariasi.” Konsep yang bervariasi ini akan diukur atau diidentifikasi perbedaan-perbedaannya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode eksperimen. Menurut Suharsimi Arikunto (2006:97), “penelitian eksperimen melihat pengaruh sesuatu treatment, maka ada variabel yang mempengaruhi dan variabel akibat. Variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X), sedangkan variabel akibat disebut variabel terikat atau dependent variable (Y).”
Berdasarkan pendapat di atas, maka variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X) adalah Layanan Bimbingan Kelompok dan variabel akibat disebut variabel terikat atau dependent variable (Y) adalah Motivasi Belajar.

3.5 Definisi Operasional Variabel
3.5.1 Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah dorongan dari diri siswa yang menimbulkan kegiatan serta arah belajar untuk mencapai tujuan belajar yang dikehendaki siswa yang di tandai dengan durasi kegiatan, frekuensi kegiatan, persistensi, ketabahan, keuletan, kemampuan dalam menghadapi rintangan, devosi, dan pengorbanan untuk mencapai tujuan, tingkatan aspirasi yang hendak dicapai, tingkatan kualifikasi prestasi, arah, dan sikap terhadap sasaran kegiatan.
Menurut Abin Syamsudin Makmun (2000:40) indikator-indikator motivasi belajar adalah:
1. Durasi kegiatan (berapa lama kemampuan penggunaan waktunya)
2. Frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu
3. Persistensi (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan belajar
4. Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan
5. Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, fikiran, bahkan jiwanya atau nyawanya) untuk mencapai tujuan.
6. Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target, dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan
7. Tingkatan kualifikasi prestasi atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak)
8. Arah, sikapnya terhadap sasaran kegiatan

3.5.1 Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.

3.6. Teknik Pengumpulan dan Analisa Data
3.6.1 Instrumen Pengumpulan Data
Angket
Angket merupakan alat pengumpulan data yang dilaksanakan secara tertulis yang diisi oleh responden atau subyek penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto (2002:128), angket adalah “sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.” Pertanyaan tersebut mengandung informasi mengenai segala hal yang berhubungan dengan subyek penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan angket tertutup yaitu angket yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih dengan bentuk pilihan ganda. Dalam kriteria dari angket tersebut dibuat dengan tiga alternatif jawaban yaitu (a),(b),(c), yang setiap jawaban diberi skor masing-masing dengan kriteria menurut Mohammad Nazir (1983:409), sebagai berikut:
“1. Untuk jawaban yang baik sesuai dengan harapan diberi skor tinggi (3)
2. Untuk jawaban yang kurang sesuai harapan diberi skor sedang (2)
3. Untuk jawaban yang tidak sesuai dengan harapan diberi skor rendah (1)”

Rentang penelitaian ini mengunakan rentang skor 1-3 dengan banyak item 50, sehingga interval kriteria tersebut dengan cara sebagai beriku :
Skor Maksimum : 3 x 50 = 150
Skor Minimum : 1 x 50 = 50
Rentang : 150 – 50 = 100
Panjang Kelas Interval : 100 : 3 = 33,3 di bulatkan 33
Persentase Skor Maksimum : ( 3 : 3 ) x 100 % = 100 %
Persentase Skor Minimum : ( 1 : 3 ) x 100 % = 33 %
Rentang Persentase Skor : 100 % - 33% = 67 %
Panjang Kelas Interval = Rentang : banyaknya kriteria
= 67 % : 3 = 22,3 %
Berdasarkan panjang kelas tersebut, maka interval kriterianya :
Kriteria tingkat karakteristik siswa yang memiliki motivasi belajar
Tabel 1
Kriteria tingkat motivasi belajar
Interval Interval % Kategori
118 – 151 79 % - 101 % T
84 – 117 56 % - 78 % S
50 – 83 33 % - 55 % R

3.6.1.1 Instrumen Penelitian
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penyusunan instrumen dilakukan dalam beberapa tahap, baik dalam perbuatan atau uji cobanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini yaitu membuat kisi-kisi pengembangan instrumen terlebih dahulu, uji coba di lapangan, revisi dan instrumen jadi.
Bagan 1. Prosedur penyusunan Instrumen-instrumen



Tabel
Kisi-kisi Pengembangan Instrumen Penelitian
Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar
Menurut Prof.Dr.H Abin Syamsuddin Makmun, M.Pd.
(Psikologi Pendidikan 2003:35)

Variabel Indikator Deskriptor No. Item
Motivasi Belajar 1. Durasi kegiatan (berapa lama kemampuan penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan)

2. Frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu)

3. Persistensi (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegiatan

4. Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi tantangan




5. Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, fikiran bahkan jiwanya atau nyawanya) untuk mencapai tujuan


6. Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan

7. Tingkatan kualifikasi prestasi atau produk atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak)

8. Arah, sikapnya terhadap sasaran kegiatan 1. Waktu yang digunakan untuk belajar
2. Memanfaatkan waktu luang untuk belajar


1. Mengulang pelajaran dirumah
2. Kegiatan belajar disekolah


1. Keinginan untuk berprestasi
2. Kesungguhan dalam belajar

1. Ketabahan dalam
menghadapi rintangan
2. Keuletan dalam
menghadapi kesulitan
belajar
3. Sikap dalam menerima
pelajaran

1. Kemampuan dalam mengikuti pelajaran
2. Minat belajar terhadap materi yang telah diajarkan




1. Rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan

2. Sikap kritis untuk bertanya terhadap materi yang disampaikan


1. Sikap untuk cepat menyelesaikan tugas pelajaran dengan baik
2. Prestasi yang diperoleh dari kegiatan belajar




1. Tindakan yang dilakukan dalam menentukan sikap
1,2,3


4,5,6



7,8,9

10,11,12



13,14,15

16,17,18



19,20,21


22,23,24



25,26,27




28,29,30

31,32,33










34, 35,36
,37,38





39,40,41






42,43,44




45,46,47









48,49,50


Instrumen yang telah dibuat diuji cobakan sebelum dipergunakan sebagai pengumpul data. Uji coba ini untuk melihat validitas dan reliabilitas instrumen.


3.6.1.2 Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2002:144). Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diukur dan mempunyai validitas tinggi serta dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti.
Pengolahan uji validitas yang dilakukan dengan SPSS 17 menggunakan rumus “korelasi product moment” yang dikemukakan oleh Karl Pearson.



Keterangan:
r xy = koefisien korelasi antara x dan y (r hitung)
n = jumlah responden
∑x = jumlah skor item
∑y = jumlah skor total
∑x2 : Jumlah kuadrat dari skor item
∑y2 : Jumlah kuadrat dari skor total
∑xy : Jumlah perkalian skor total dengan skor item

Berdasarkan uji coba instrumen yang telah dilakukan uji validitas dengan pengelolahan SPSS 17 dan dianalisis hasilnya pada taraf signifikasi 5% dan N= 32 dan dikonsultasikan dengan r tabel 0,349 maka instrumen yang digunakan valid karena r hitung > r tabel.
Dari hasil analisis didapat 41 item yang valid dan 9 item yang tidak valid
adapun yang valid adalah nomor 3, 4, 6, 7, 8, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 21, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, dan 50. Sedangkan item yang tidak valid adalah nomor 1, 2, 5, 9, 12, 18, 20, 22, dan 33.
Item yang tidak valid tidak digunakan dalam instrumen penelitian karena setiap indikator sudah terdapat item yang mewakili. Dengan demikian item yang digunakan dalam instrumen penelitian terdapat 41 item.

3.6.1.3 Reliabilitas
Reliabilitas atau keterandalan instrumen sebagai alat ukur dimaksudkan untuk mengetahui sejumlah kebenaran alat ukur tersebut sesuai atau cocok digunakan sebagai alat ukur. Pengelolahan dilakukan dengan SPSS 17. Teknik uji yang digunakan adalah rumus alpha, karena skor yang diberikan bukan 1 dan 0. Hal ini sesuai dengan Arikunto (2002:171) bahwa “untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0 menggunakan rumus alpha”.








Berdasarkan hasil uji coba instrumen penelitian secara keseluruhan dengan menggunakan SPSS 17 diketahui r hitung = 0.954 > 0,349 maka dapat dikatakan instrumen skala psikologi dalam pengukuran tersebut reliabel.







3.6.2 Teknik Analisis Data
Setelah diperolehnya seluruh data-data yang dibutuhkan, maka langkah selanjutnya adalah pengolahan data dan analisis data. Pengelolahan Uji t menggunakan SPSS versi 17. Adapun analisis data yang peneliti gunakan adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mendukung pengolahan data dengan rumus t hitung.

Keterangan:
Md = Mean dari perbedaan /deviasi (d) antara post test dan pre test
xd = Perbedaan deviasi dengan mean deviasi (d – Md )
∑x2d = Jumlah kuadrat deviasi xd
N = Banyaknya subjek
df = atau db adalah N – 1
(Suharsimi Arikunto, 2006 : 306 )
lalu di konsultasikan dengan table nilai t, dengan t 0,05. Apabila thitung > ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat perbedaan antara skor motivasi belajar siswa sebelum diberikan perlakuan (pretest) dan setelah diberikan perlakuan (posstest). Nilai-nilai distribusi t ditentukan dk=N-1=8-1= 7 dengan taraf signifikansi (α) 0,05 maka, didapat ttabel 0,05(7)= 1,895







Rentang penelitaian ini mengunakan rentang skor 1-3 dengan banyak item 41, sehingga interval kriteria tersebut dengan cara sebagai beriku :
Skor Maksimum : 3 x 41 = 123
Skor Minimum : 1 x 41 = 41
Rentang : 123 – 41 = 82
Panjang Kelas Interval : 82 : 3 = 27,3
Persentase Skor Maksimum : ( 3 : 3 ) x 100 % = 100 %
Persentase Skor Minimum : ( 1 : 3 ) x 100 % = 33 %
Rentang Persentase Skor : 100 % - 33% = 67 %
Panjang Kelas Interval = Rentang : banyaknya kriteria
= 67 % : 3 = 22,3 %
Berdasarkan panjang kelas tersebut, maka interval kriterianya :
Kriteria tingkat karakteristik siswa yang memiliki motivasi belajar
Interval Interval % Kategori
97 - 124 79 % - 101 % T
69 – 96 56 % - 78 % S
41 – 68 33 % - 55 % R

data bab 2 skripsi amran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok merupakan Layanan yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan bimbingan kelompok berfungsi untuk pemahaman dan pengembangan
2.1.1 Pengertian Bimbingan kelompok
Prayitno (1995: 178), mengemukakan bahwa :
Bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok”. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya”.

Sementara Romlah (2001: 3), mengatakan bahwa :
bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.

Selanjutnya bimbingan kelompok diuraikan oleh (Sukardi, 2003: 48) sebagai berikut :
Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat”.

Wibowo (2005: 17) menyatakan, “ bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok dimana pimpinan kelompok menyediakan informasi- informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama”.

Jadi dari beberapa pengertian bimbingan kelompok di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.
Dengan adanya kegiatan bimbingan kelompok ini maka siswa dilatih untuk berbicara dihadapan teman-temannya dalam mengemukakan pendapatnya, siswa belajar untuk menghargai pendapat, siswa belajar memecahkan masalah dari topik yang dibahas. Dengan demikian siswa akan sadar sehingga termotivasi untuk belajar dan mempertinggi prestasi.

2.1.2 Tujuan Bimbingan Kelompok
Ada beberapa tujuan bimbingan kelompok yang di kemukakan oleh beberapa ahli, adalah sebagai berikut :
Menurut Amti (1992: 108) bahwa tujuan bimbingan kelompok terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum bimbingan kelompok betujuan untuk membantu para siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Selain itu juga mengembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui berbagai suasana yang muncul dalam kegiatan itu, baik suasana yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.

Secara khusus bimbingan kelompok bertujuan untuk:
1. Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan
teman- temannya.
2. Melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok
3. Melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama teman-teman
dalam kelompok khususnya dan teman di luar kelompok pada
umumnya.
4. Melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan
kelompok.
5. Melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan orang lain.
6. Melatih siswa memperoleh keterampilan sosial.
7. Membantu siswa mengenali dan memahami dirinya dalam
hubungannya dengan orang lain.

Tujuan bimbingan kelompok seperti yang dikemukakan oleh
(Prayitno, 1995: 178) adalah: (1) Mampu berbicara di depan orang banyak.,
(2) mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain sebagainya kepada orang banyak, (3). belajar menghargai pendapat orang lain, (4) bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya, (5) mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan yang bersifat negatif), (6)dapat bertenggang rasa, (7) menjadi akrab satu sama lainnya, (8) membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau menjadi kepentingan bersama.

Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. (Sukardi, 2003: 48).
Layanan bimbingan kelompok merupakan media pengembangan diri untuk dapat berlatih berbicara, menanggapi, memberi menerima pendapat orang lain, membina sikap dan perilaku yang normatif serta aspek-aspek positif lainnya yang pada gilirannya individu dapat termotivasi untuk mengembangkan potensi diri sehingga diharapkan siswa pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Dari beberapa pendapat diatas maka tujuan layanan bimbingan kelompok ialah sebagai berikut : (1) menambah wawasan, dari yang belum tahu menjadi tahu dan dari yang sudah tahu menjadi lebih tahu, (2) membentuk dan mengembangkan sikap sosial moral antara sesama anggota kelompok, seperti saling menghargai pendapat masing-masing anggota dan saling menerima sesama anggota apa adanya, (3) melatih siswa untuk berkomunikasi, (4) memberikan semacam motivasi bagi para anggota bimbingan kelompok untuk berani mengemukakan pendapatnya di depan orang banyak, atau dengan kata lain memberikan ketrampilan bagi para anggota kelompok untuk berani berbicara di depan umum.

2.1.3 Komponen Layanan Bimbingan Kelompok
Di dalam layanan bimbingan kelompok yang berperan di dalam layanan ini adalah suasana kelompok, pemimpin kelompok dan anggota kelompok.
a. Suasana Kelompok
Di dalam suatu kelompok, kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak dan aktif berfungsi dalam memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai tujuan. Dalam bimbingan kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok para anggota kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya. Dinamika kelompok tersebut hanya akan dapat terwujud jika kelompok tersebut benar-benar hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok serta semangat ditentukan oleh peranan anggota kelompok.
Ada lima hal yang harus diperhatikan dalam menciptakan suasana kelompok menjadi lebih baik (Prayitno, 1995:27), yaitu :
a. Hubungan yang dinamis antar anggota kelompok.
b. Tujuan bersama.
c. Hubungan langsung antara besarnya kelompok dengan sifat kehidupan kelompok.
d. Itikad dan sikap para anggota kelompok.
e. Kemandirian.


b.Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok adalah konselor yang terlatih dan berwenang menyelenggarakan praktik konseling professional (Prayitno, 2004:4). Pemimpin kelompok sangatlah berperan penting di dalam jalannya suatu kelompok tersebut. Pemimpin kelompok haruslah memiliki keterampilan di dalam memimpin kelompok khususnya bimbingan kelompok sehingga dapat menghidupkan dinamika kelompok dan tujuan dari bimbingan kelompok tersebut dapat tercapai.
Seorang pemimpin kelompok di dalam layanan bimbingan kelompok berperan sebagai (Prayitno, 1995:35 - 36) :
a. Pemberi bantuan, pengarahan atau campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok.
b. Memusatkan perhatian pada suasana perasaan yang berkembang dalam kelompok, baik itu perasaan anggota-anggota tertentu maupun perasaan keseluruhan kelompok.
c. Memberikan arahan kepada angggota kelompok, jika kelompok tersebut tampaknya kurang menjurus kepada arah yang ingin dituju.
d. Mengatur jalannya kegiatan kelompok.
e. Sifat kerahasiaan dari kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.

c. Anggota Kelompok
Merupakan salah satu unsur pokok dalam suatu kelompok dan sangatlah menentukan. Tanpa adanya anggota tidaklah mungkin ada kelompok. Kegiatan ataupun kehidupan kelompok itu sebagian besar didasarkan atas peranan para anggotanya. Peranan kelompok tidak akan terwujud tanpa keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok, dan bahkan lebih dari itu, dalam batas-batas tertentu suatu kelompok dapat melakukan kegiatan tanpa kehadiran peranan pimpinan kelompok sama sekali.
Pemilihan anggota kelompok sangatlah penting, agar dalam pelaksanaan bimbingan kelompok dapat berjalan lancar. Anggota kelompok sangat berperan dalam menentukan keberhasilan dari pelaksanaan layanan bimbingan kelompok. Jika anggota kelompok tidak bisa membina keakraban, melibatkan diri dalam kegiatan kelompok, mematuhi aturan dalam kegiatan kelompok, terbuka, membantu anggota kelompok lain, maka akan sangat sulit dalam menciptakan suasana kelompok yang baik.
Di dalam bimbingan kelompok, anggota kelompok hendaknya memainkan perannya sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Prayitno (1995:32) anggota kelompok berperan sebagai :
a. Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
b. Mencurahkan segenap perasaan dan melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
c. Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
d. Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
e. Benar-benar berusaha untuk secara efektif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
f. Berusaha membantu orang lain.
g. Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalani peranannya.
h. Menyadari pentingnya kegiatan kelompok tersebut.

Jadi dapat disimpulkan bahwa, didalam suatu layanan bimbingan kelompok terdapat tiga komponen yang sangat mempengaruhi di dalam berhasil atau tidaknya suatu proses bimbingan kelompok dan akan saling menunjang satu sama lain. Ketiga komponen tersebut adalah suasana kelompok, pemimpin kelompok dan anggota kelompok.

2.1.4 Asas-asas Bimbingan kelompok
Di dalam bimbingan kelompok terdapat kaidah-kaidah (asas-asas) yang harus diperhatikan, seperti :
1. Asas kesukarelaan, yakni semua anggota kelompok diminta secara sukarela dan tanpa ragu-ragu atau merasa terpaksa di dalam menyampaikan masalah yang dihadapinya.
2. Asas kerahasiaan, yakni segala sesuatu yang dibicarakan di dalam kegiatan bimbingan kelompok tidak boleh disampaikan kepada orang lain, terutama hal-hal atau informasi yang tidak layak diketahui oleh orang lain
3. Asas keterbukaan, yakni semua anggota kelompok bebas dan terbuka mengeluarkan pendapat, ide, saran dan apa saja yang dirasakan atau yang dipikirkannya.
4. Asas kenormatifan, yakni semua yang dibicarkan dan dilakukan dalam kegiatan kelompok tidak boleh bertentangan dengan norma dan peraturan yang berlaku. Selama kegiatan berlangsung setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling menghormati dan menghargai.

Apabila asas-asas tersebut diikuti dan dapat dilaksanakan dengan baik, maka sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. Akan tetapi jika asas-asas tersebut diabaikan atau bahkan dilanggar maka sangat dikhawatirkan kegiatan konseling tidak akan dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan, bahkan juga dapat merugikan orang-orang yang terlibat di dalam bimbingan kelompok tersebut. Jadi, di dalam bimbingan kelompok terdapat beberapa asas-asas yang mengikat dalam jalannya suatu layanan bimbingan kelompok seperti asas kesukarelaan, asas kerahasiaan, asas keterbukaan dan asas kenormatifan. Asas-asas tersebut sangatlah berperan di dalam proses jalannya bimbingan kelompok, sehingga tujuan bimbingan kelompok dapat tercapai.









2.1.5. Tahap-Tahap Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok terdiri dari empat tahap, yaitu : tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran (Prayitno, 1995:40-60).
Tahap I
Tahap ini disebut sebagai tahap pembentukan, dimana tahap pembentukan ini para anggota kelompok saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan kegiatan bimbingan kelompok. Tahap ini ditandai dengan keterlibatan anggota kelompok dalam kegiatan kelompok. Kegiatan yang dilakukan pada tahap pembentukan :
Tahap pembentukan
1. Ucapan selamat datang.
2. Doa bersama.
3. Pengertian bimbingan kelompok.
4. Tujuan bimbingan kelompok.
5. Cara pelaksanaan.
6. Azas bimbingan kelompok.
7. Perkenalan dilanjutkan dengan permainan.













Bagan 1
Tahap I : Pembentukan





























Tahap II
Tahap II ini dinamakan tahap peralihan. Pada tahap peralihan biasanya diwarnai dengan suasana ketidak seimbangan dalam diri masing-masing anggota kelompok, yang menyebabkan tingkah lakunya tidak sebagaimana biasanya. Selain itu tahap ini juga merupakan jembatan antara tahap pertama dengan tahap berikutnya oleh karena itu apabila tahap peralihan dapat dilalui dengan baik maka tahap-tahap berikutnya akan dapat juga berjalan baik. Kegiatan yang dilakukan pada tahap peralihan :
Tahap peralihan
1. Menjelaskan kegiatan yang akan dijalani pada tahap berikutnya.
2. Menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya (tahap ketiga).
3. Membahas suasana yang terjadi.
4. Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota.
5. Kalau perlu kembali ke beberapa aspek tahap pertama (tahap pembentukan).















Bagan 2
Tahap II : Peralihan





























Tahap III
Tahap III ini dinamakan tahap kegiatan. Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Kegiatan kelompok pada tahap ini tergantung dari dua tahap sebelumnya. Jika tahap-tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ketiga ini akan berlangsung dengan lancar, dan pemimpin kelompok mungkin sudah melakukan kegiatan tanpa banyak campur tangan dari pemimpin kelompok. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini :

Tahap kegiatan
1. Pemimpin kelompok mengemukakan topik bahasan. (topik tugas/bebas)
2. Tanya jawab hal yang belum dipahami.
3. Anggota membahas topik sampai tuntas.
4. Setiap anggota mengemukakan apa yang akan dilakukan setelah membahas topik tersebut (peneguhan hasrat) dan / komitmen.

















Bagan 3
Tahap III : Kegiatan





























Bagan 4
Tahap III : Kegiatan





























Tahap IV
Tahap IV dinamakan tahap pengakhiran. Setelah kegiatan kelompok memuncak pada tahap ketiga, kegiatan kelompok ini menurun, dan selanjutnya kelompok akan mengakhiri kegiatannya pada saat yang dianggap tepat.
Tahap pengakhiran
1. Pemimpin mengemukakan bahwa kegiatan akan diakhiri.
2. Pemimpin dan anggota mengemukakan kesan dan hasil kegiatan.
3. Merencanakan kegiatan lanjutan.
4. Pesan dan harapan.
5. Doa penutup dan perpisahan.





















Bagan 5
Tahap IV : Pengakhiran





























Bagan 6
Tahapan-Tahapan di Dalam Bimbingan Kelompok









2.2 Motivasi Belajar
2.2.1 Pengertian Belajar
Dalam proses pembelajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang sangat penting. Guru pembimbing atau konselor sekolah harus dapat memahami dengan baik tentang proses belajar, agar konselor sekolah dapat memberikan Konseling dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi dengan apa yang dibutuhkan siswa di sekolah.
Belajar merupakan usaha untuk merubah tingkah laku seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Sardiman A.M (2003 : 20): “Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, atau meniru”. Artinya bahwa belajar itu dapat menghasilkan perubahan tingkah laku yang diinginkan melalui kegiatan yang dilakukan seperti membaca, mengamati, mendengarkan atau meniru apa yang dipelajari.
Melalui belajar kita dapat mengalami suatu perubahan kearah yang lebih baik yang dapat dilihat dari pribadi manusia itu sendiri yang ditampakkan dalam bentuk perubahan peningkatan kualitas tingkah laku yang dimiliki. Belajar memberikan peningkatan akan kecakapan, pengetahuan sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir dan lain-lain.
Menurut Oemar Hamalik (1983 : 21):
“Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat penglaman dan latihan.”

Dalam hal ini bentuk pertumbuhan atau perubahan yang dimaksud adalah bertambahnya ilmu pengetahuan dalam diri seseorang yang ditandai dengan adanya perubahan perilaku. Dari kedua pendapat diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa peningkatan kualitas perubahan tingkah laku pada dirinya dari keadaan sebelum ia belajar dan penguasaan materi ilmu pengetahuan.

2.2.2 Tujuan Belajar
Dalam usaha pencapaian tujuan belajar, perlu diciptakan sistem lingkungan atau kondisi belajar yang lebih kondusif dan mendukung terlaksananya proses kegiatan mengajar denagn baik. Dalam hal ini Sardiman A.M. (2003 : 26) berpendapat bahwa tujuan belajar terdiri dari 3 jenis yaitu:
1. Untuk mendapatkan pengetahuan
Seseorang belajar ingin mendapatkan sesuatu hal yang baru, dalam hal ini berupa pengetahuan dan wawasan yang dapat berguna dalam mengembangkan pola pikir dan kepribadian dalam menghadipi segala hal.
2. Penanaman konsep dan keterampilan
Melalui belajar kita dapat memilki konsep dan keterampilan yang dimiliki. Kita dapat mengembangkan apa yang kita miliki baik itu potensi diri dan keterampilan-keterampilan yang diperoleh dari hasil belajar.
3. Pembentukan sikap
Sikap yang baik dalam menyikapi segala hal dapat diperoleh dari hasil belajar, karena belajar merupakan suatu usaha untuk mengubah suatu tindakan atau perilaku yang diinginkan melalui pengalaman dan latihan.

Siswa yang memiliki ketiga tujuan belajar tersebut diatas akan lebih mudah dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dikelas, karena ketiga tujuan belajar yang telah uraikan diatas dapat diketahui motivasi instrinsik dari siswa untuk belajar sudah terbentuk. Tujuan belajar itu terbentuk karena adanya kebutuhan dan motivasi dari siswa. Dengan demikian belajar itu berorientasi kepada tujuan siswa dalam belajar.
Jadi, dengan diadakanya kegiatan layanan bimbingan kelompok yang bertujuan untuk : (1) menambah wawasan, dari yang belum tahu menjadi tahu dan dari yang sudah tahu menjadi lebih tahu, (2) membentuk dan mengembangkan sikap sosial moral antara sesama anggota kelompok, seperti saling menghargai pendapat masing-masing anggota dan saling menerima sesama anggota apa adanya, (3) melatih siswa untuk berkomunikasi, (4) memberikan semacam motivasi bagi para anggota bimbingan kelompok untuk berani mengemukakan pendapatnya di depan orang banyak, atau dengan kata lain memberikan ketrampilan bagi para anggota kelompok untuk berani berbicara di depan umum. Dari tujuan tersebut maka siswa akan terpacu untuk lebih giat lagi dalam belajar baik itu di sekolah maupun di rumah.

2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Belajar merupakan suatu proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku siswa, banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari banyak faktor yang mempengaruhi tersebut dapat dibagi menjai dua faktor yaitu:
1. Faktor Internal
Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Faktor internal ini terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis yaitu kondisi jasmani yang mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Faktor psikologis yaitu faktor rohaniah seperti tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat dan motivasi siswa.
2. Faktor Eksternal
Faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial. Faktor sosial seperti lingkungan sekolah yang mempengaruhi semangat belajar siswa, kondisi dan keadaan lingkungan masyarakat dan teman-teman di tempat tinggal siswa, dan yang paling mempengaruhi adalah lingkungan dari keluarga atau orang tua siswa itu sendiri dilihat dari sifat-sifat orang tua dan pengelolaan terhadap keluarga. Faktor lingkungan nonsosial yaitu gedung sekolah, jarak rumah tempat tinggal siswa, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu yang digunakan saat siswa belajar. Faktor lingkungan sosial maupun faktor lingkungan nonsosial sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa baik dilingkungan sekolah maupun dilingkungan rumah. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dan mendukung dalam pelaksanaan kegiatan belajar siswa.

2.2.4 Motivasi
Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Sesuai dengan pendapat Gleitman dan Reber (1986 : 136): Motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. Seseorang akan memiliki dorongan yang timbul dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang diinginkan agar tercapai.
Dalam dunia pendidikan, motivasi belajar yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi yang timbul dari dalam diri sendiri. Kerena lebih murni dan akan tahan lama serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Dorongan untuk mencapai prestasi dan dorongan untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, memberikan pengaruh yang kuat dan relative lebih lama dibandingkan dengan dorongan keharusan dari orang tua dan guru.

2.2.5 Pengertian Motivasi Belajar
Siswa yang memiliki tujuan dalam belajar akan memiliki kesadaran dari dalam dirinya sendiri untuk dapat melaksanakan kegiatan belajar dengan harapan tujuan belajar yang diinginkan dapat tercapai. Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai, maka harus ada dorongan dari dalam diri individuitu sendiri. Menurut pendapat Sardiman A.M (2003 : 27) “ Motivasi adalah daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, sebagai tujuan yang dikehendaki segera tercapai”.
Apabila siswa memilki motivasi belajar yang tinggi, maka kemampuan dalam belajarnya akan semakin tinggi seperti yang dikemukakan oleh Thursan dalam Hakim (2005 : 26): “ Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu”.
Hamzah (2007:1) menjelaskan bahwa motivasi merupakan dorongan dasar yang menggerakkan seseorang untuk bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya. Sutadipura (2005:114) menyatakan bahwa motivasi merupakan suatu proses, yaitu :
1. Membimbing anak-anak didik ke arah pengalaman-pengalaman, yang kegiatan belajar itu dapat berlangsung.
2. Memberikan kepada anak-anak didik, kekuatan dan aktivitas serta memberikan kepadanya kewaspadaan yang memadai.
3. Pada suatu saat mengarahkan perhatian mereka terhadap suatu tujuan.

Winkel (1987:73) mengemukakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu, maka tujuan yang dikehendaki siswa tercapai.
Prayitno (1989:8) berpendapat bahwa:
Motivasi belajar tidak saja merupakan suatu energi yang menggerakkan siswa untuk belajar, tetapi juga sebagai suatu yang mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan belajar.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa motivasi belajar adalah suatu usaha yang timbul dari dalam diri siswa agar tumbuh dorongan untuk belajar dan tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai.


2.2.6 Macam-Macam Motivasi Belajar
Motivasi belajar yang ada pada setiap siswa dalam melakukan suatu kegiatan berbeda satu dengan yang lainnya. Selain itu, dalam melakukan suatu kegiatan, seorang siswa dapat mempunyai motivasi lebih dari satu macam motivasi dalam belajarnya. Karena itu motivasi terdiri dari berbagai macam.
Menurut Sardiman A.M (2003 : 86) macam-macam motivasi belajar adalah:
1. Motivasi instrinsik, yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dari dalam diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
2. Motivasi ekstrinsik, yaitu motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar.

Macam-macam motivasi yang telah disebutkan diatas semua pada akhirnya adalah untuk mencapai apa yang menjadi tujuan untuk memenuhi kebutuhan dengan adanya dorongan baik dari dalam maupun dari luar. Motivasi sangatlah diperlukan, karena dengan adanya motivasi siswa dapat mengembangkan aktifitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam kegiatan belajar, yang terutama adalah motivasi yang timbul dari dalam diri inidividu itu sendiri.

2.2.7 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Motivasi dalam belajar mempunyai peranan yang sangat besar pengaruhnya untuk mendorong kegiatan belajar siswa khususnya yang memilki perilaku-perilaku maladaptive dan menyimpang sehingga perilaku tersebut mengganggu proses belajar siswa. Menurut Sadiman A.M. (2003 : 85) fungsi dari motivasi adalah:
1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motorik yang melepaskan energi.
2. Menentukan arah perbuatan kearah yang hendak dicapai.
3. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Dalam hal ini fungsi motivasi menandakan perubahan kearah yang lebih baik yang timbul dari dalam dan luar dari seseorang khususnya dalam hal belajar bagi siswa. Sesuai dengan pendapat diatas maka diharapkan anak didik memiliki motivasi yang tinggi, sebab dengan motivasi yang tinggi akan sangat membantu siswa tersebut untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Diharapkan juga kepada guru mata pelajaran dan guru pembimbing memberikan perhatian yang dapat menumbuhkan motivasi belajar dengan menggunakan indikator-indikator yang dikemukakan oleh Abin Syamsudin Makmun (2000 : 40), yaitu meliputi hal-hal yang perlu diukur :
1. Durasi kegiatan (berapa lama kemampuan penggunaan waktunya)
2. Frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu
3. Persistensi (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan belajar
4. Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan
5. Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, fikiran, bahkan jiwanya atau nyawanya) untuk mencapai tujuan
6. Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target, dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan
7. Tingkatan kualifikasi prestasi atau output yang dicapai dari kegiatannya (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau tidak)
8. Arah, sikapnya terhadap sasaran kegiatan

Motivasi belajar siswa adalah salah satu faktor untuk meningkatkan belajar siswa di sekolah, maka dalam hal ini Sardiman A.M, (2003 : 83) mengemukakan beberapa indikator yang ada dalam motivasi belajar siswa, yaitu :
1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4. Lebih senang bekerja mandiri.
5. Cepat bosan dengan tugas-tugas rutin.
6. Dapat mempertahankan pendapatnya.
7. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.
8. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

Motivasi dapat ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperhatikan hal-hal yang dapat diukur dalam motivasi. Dengan demikian siswa memiliki kesadaran untuk memiliki motivasi dalam mengikuti dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

2.2.8 Peranan Motivasi Dalam Belajar dan Cara Meningkatkan Motivasi Belajar

Peranan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting dan memiliki pengaruh amat besar terhadap apa yang akan diperoleh siswa dalam hal ini lebih ditekankan pada tingkat prestasi dan keberhasilan siswa dalam belajar.
Menurut Sardiman A.M. (2003 : 78-80) motivasi sangat berperan dalam belajar karena mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
1. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan siswa. Belajar tanpa motivasi sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal.
2. Pembelajaran yang termotivasi pada hekekatnya adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan motif, minat yang ada pada diri siswa.
3. Pembelajaran yang termotivasi menurut kreatifitas dan imajinitas guru untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa.
4. Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakan motivasi dalam proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin kelas yang mengakibatkan timbulnya perilaku maladatif dari diri siswa.
5. Penggunaan asas motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam proses belajar dan pembelajaran. Motivasi menjadi salah satu faktor yang turut menentukan pembelajaran yang efektif.

Dengan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam motivasi akan lebih mudah menimbulkan kesadaran bagi siswa dalam meningkatkan motivasi belajarnya. Sehingga siswa secara sadar dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa adanya paksanaan dari pihak lain.

2.3 Hubungan Bimbingan Kelompok dengan Motivasi Belajar
Pada pelaksanaan bimbingan kelompok akan dibahas topik tugas yang temanya diharapkan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Dengan adanya pelaksanaan bimbingan kelompok peneliti akan memanfaatkan suasana kelompok dengan komunikasi yang multiarah di antara anggota kelompok, sehingga akan didapatkan informasi dan pemecahan masalah yang akan bermanfaat bagi anggota kelompok dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dengan adanya tahapan-tahapan yang dilalui dalam pelaksanaan bimbingan kelompok maka siswa akan terpacu, terdorong, sehingga mereka sadar bahwa hidup adalah proses belajar dan berjuang tanpa henti. Tanpa adanya proses belajar maka manusia akan terhenti karena tidak mendapatkan informasi. Akibatnya apabila siswa tidak mau belajar maka akan berdampak pada hasil belajar yang tidak memuaskan. Diharapkan pada akhirnya siswa yang memiliki motivasi belajar rendah dapat ditingkatkan melalui bimbingan kelompok ini.






2.4 Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu gambaran yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 1998:67). Karena masalah yang diteliti ini merupakan usaha untuk mencari ada tidaknya pengaruh, maka ada dua hipoteis yang muncul, yakni :
a. Hipotesis Kerja (Ha)
Ada ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2010/2011.
b. Hipotesis Nihil (H0)
Tidak ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2010/2011.

data bab 1 skripsi amran

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalamanya sendiri. Dalam proses belajar ini berhasil atau tidaknya pelaksanaan proses tersebut sangat di pengaruhi oleh banyak hal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar salah satunya adalah motivasi belajar.
Menurut Surya (1996: 62) mengemukakan bahwa motivasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu. Dalam proses pembelajaran motivasi sangat diperlukan. Hasil belajar siswa akan menjadi optimal bila ada motivasi.

Sedangkan menurut pendapat Hawley dalam (Yusuf, 1993:14) menyatakan “bahwa siswa yang memiliki motivasi tinggi, belajarnya lebih baik dibandingkan dengan siswa yang motivasinya rendah”.

Pada pelaksanaan proses pembelajaran salah satu komponen yang menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan proses pembelajaran adalah guru. Guru merupakan motivator dalam meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru memiliki peran untuk merangsang dan memberikan dorongan yang positif serta penguatan kepada siswa, menumbuhkan aktivitas dan kreativitas sehingga siswa akan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.
Guru sebagai motivator belajar bagi para siswanya, harus mampu untuk membangkitkan dorongan siswa untuk belajar, menjelaskan secara konkrit kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pelajaran, memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai kemudian hari dan membuat regulasi (aturan) perilaku siswa. Jadi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran sangatlah dipengaruhi oleh peran seorang guru. Hal ini menunjukan bahwa kegagalan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dimungkinkan karena guru tidak berhasil dalam memberikan motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan siswa untuk belajar (Sardiman, 2007:75).
Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah ditandai oleh bentuk tingkahlaku sebagai berikut : (1) kelesuan dan ketidakberdayaan; (2) penghindaran atau pelarian diri; (3) pertentangan; dan (4) kompensasi (Syaodih, 1980 :59). Fenomena yang terjadi di lapangan sehubungan dengan motivasi belajar menunjukkan perilaku sebagai berikut : (1) membolos, datang terlambat , tidak mengerjakan PR, dan tidak teratur dalam belajar; (2) menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti menentang, acuh tak acuh, berpura-pura ; (3) lambat dalam melaksanakan tugas-tugas kegiatan belajar; dan (4) menunjukan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, pemarah, mudah tersinggung, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Menurut Natawidjaja (1988 :22) keempat gejala yang ditunjukkan tersebut mengisyaratkan adanya kesulitan belajar pada diri siswa. Kesulitan belajar tersebut di duga berkaitan erat dengan motivasi belajar yang dimilikinya.
Sekolah merupakan salah satu tempat pendidikan bagi siswa untuk dapat mengembangkan diri melalui layanan bimbingan dan konseling, salah satu programnya yaitu layanan bimbingan kelompok. Layanan ini merupakan salah satu jenis layanan yang dianggap tepat untuk memberikan kontribusi pada siswa dalam mengembangkan, meningkatkan motivasi belajar siswa. Bimbingan kelompok merupakan lingkungan kondusif yang memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, memberikan ide, perasaan, dukungan bantuan alternatif pemecahan masalah dan mengambil keputusan yang tepat , dapat berlatih tentang perilaku baru dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukannya sendiri. Suasana ini dapat menumbuhkan perasaan berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah motivasi belajar siswa.
Bimbingan kelompok tepat digunakan sebagai salah satu bentuk layanan bimbingan dan konseling untuk dapat diberikan kepada siswa yang masih memerlukan pengembangan perilaku dimaksud, baik di rumah, sekolah maupun lingkungan masyarakat sehingga diharapkan secara optimal siswa mengalami perubahan dan mencapai peningkatan yang positif setelah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok.
Berdasarkan studi pendahuluan oleh peneliti melalui wawancara dengan guru pembimbing di SMA N 1 Indralaya ternyata masih terdapat siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah hal ini dapat di lihat dari prestasi belajar yang rendah pada setiap mata pelajaran, masih ada siswa-siswi yang tidak bersemangat dalam belajar, datang terlambat, membolos sekolah, tidak membuat PR. Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMA N 1 Indralaya ini belum berjalan secara optimal sehingga belum dapat menerapkan beberapa layanan seperti halnya layanan bimbingan kelompok. Hal ini diakibatkan karena tidak adanya program bimbingan dan konseling di sekolah tersebut. Untuk itu peneliti merasa perlu mengadakan bimbingan kelompok.
Upaya peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan layanan bimbingan kelompok. Dalam kegiatan bimbingan kelompok terdiri dari beberapa langkah-langkah yang harus di lalui seperti tahap I (tahap pembentukan), tahap II (tahap peralihan), tahap III (tahap kegiatan), tahap IV (tahap pengakhiran).

Pelaksanaan bimbingan kelompok akan membahas topik bebas dan juga tugas. Dimana topik tugas artinya topik/tema yang akan dibahas telah di tentukan oleh peneliti dimana anggota kelompok nantinya memilih topik mana yang akan di bahas untuk masing-masing pertemuan. Dalam topik bebas artinya anggota kelompok di berikan hak untuk menentukan sendiri topik.
Pada saat berlangsungnya proses bimbingan kelompok masing-masing anggota kelompok di dalamnya saling mengemukakan pendapat, memberikan saran maupun ide-ide, menanggapi, saling berkomunikasi, menciptakan dinamika kelompok untuk mengembangkan diri yaitu berlatih mengkomunikasikan pendapat-pendapat yang ada pada tiap-tiap anggota dalam membahas suatu topik.
Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:
1. Durasi kegiatan;
2. Frekuensi kegiatan;
3. Persistensi pada kegiatan;
4. Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan
kesulitan;
5. Devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan;
6. Tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan;
7. Tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari
kegiatan yang dilakukan;
8. Arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Layanan bimbingan kelompok tepat digunakan sebagai salah satu bentuk layanan bimbingan dan konseling untuk dapat diberikan kepada siswa yang memiliki motivasi belajar yang masih rendah. Berdasarkan latar belakang uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2010/2011.

1.2 Rumusan Masalah
Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2010/2011?.



1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Apakah ada pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Indralaya Tahun Pelajaran 2010/2011?.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa
Dengan adanya kegiatan bimbingan kelompok ini diharapkan siswa
sadar untuk dapat meningkatkan motivasi belajarnya guna memperoleh
hasil belajar yang lebih baik dan mendapatkan prestasi belajar yang
memuaskan.
2. Bagi Guru Pembimbing
Sebagai informasi tentang penggunaan aplikasi layanan bimbingan dan
konseling untuk mengatasi permasalahan siswa melalui bimbingan
kelompok guna peningkatan hasil belajar.
3. Bagi Sekolah
Sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah untuk dapat melaksanakan
kegiatan layanan bimbingan kelompok dalam membantu meningkatkan
motivasi belajar siswa.

Kamis, 26 Agustus 2010

Cara penggunaan spss (sumber Berdasarkan Praktek Langsung) untuk lebih jelas lebi baik anda praktik langsung dengan yg ahli

Menghitung Validitas
1. klik analisis
2. correlate
3. bivariate
4. pindahkan ke samping (Skor yang ada item sampai skor total )
5. oke

mencari reliable
1. blog skor item kecuali total
2. klik analisis
3. scale
4. reliable analis
5. blog semua
6. pindahkan ke kolom samping
7. statistik (conteng item scale, slace if item deleted,)
8. continue
9. ok


hormalitas
1. blog data dari no 1 sampai terakhir ( pindahkan ke program spss)
2. analis
3. non parametik tes
4. 1 sample k – s
5. pindahkan
6. oke (untuk melihat normalitas data lihat kolom asymp.sig (2 tailed)























Homogen
1. blog total X dan Y (pindahkan ke program spss)
2. Analist
3. compare means
4. one way ANOVA
5. pindahkan ke samping
6. Variabel Y pindahkan ke dependent list dan variabel X pindahkan ke factor
7. Klik option
8. conteng homegonneity
9. continue
10. oke



Levene
Statistik df 1 df 2 Sig






Perhatikan table leveno statistik dan sig



KOEFISIEN KORELASI (blog total variabel X dan Y pindahkan ke progam SPSS)
1. Analist
2. correlate
3. bivariate
4. pindahkan
5. oke

Prinsip Psikologis Karate

Sejak karate melibatkan kontak langsung antara dua orang atau lebih, faktor psikologis memainkan sebuah peranan penting. Dalam banyak hal, mereka dengan kekuatan psikologis yang lebih baik mampu menang sekalipun kalah secara fisik. Meskipun kondisi kejiwaan ini datang secara alamiah, namun kemudian menjadi hal penting dalam latihan karate. Contohnya akan dijelaskan dibawah ini, yang mana merupakan konsep lama dari masa lalu namun menawarkan pendekatan yang lebih luas.

Mizu no Kokoro (pikiran layaknya air)

Istilah ini, bersama dengan istilah yang berikutnya, sebelumnya digunakan oleh para master karate sebagai penekanan dalam metode mengajar. Keduanya mengarah pada sikap mental yang dibutuhkan saat menghadapi lawan yang sebenarnya. Mizu no Kokoro berhubungan dengan pentingnya berpikir tenang, seperti permukaan air yang tenang.

Untuk memahami ungkapan ini lebih jauh, pikirkan bahwa air yang tenang mampu memantulkan semua bayangan benda dalam jangkauannya secara utuh. Dan jika pikiran selalu dalam kondisi seperti ini, maka pemahaman pada kemampuan lawan (baik fisik dan psikologisnya) akan terjadi dengan akurat dan segera. Dan begitu pula dengan respon bertahan dan menyerang akan terarah dan akurat.

Sebaliknya, jika permukaan air itu terganggu maka bayangan benda juga akan kabur. Secara analogi, jika pikiran dipenuhi dengan keinginan untuk menyerang dan bertahan, maka tidak mampu membaca keinginan lawan. Akhirnya justru menciptakan sebuah peluang bagi lawan untuk menyerang.

Tsuki no Kokoro (pikiran layaknya bulan)

Konsep ini berarti pentingnya kesadaran total kepada lawan berikut gerakannya, mirip cahaya bulan yang menerangi semua benda dalam jangkauannya. Dengan mengembangkan kemampuan ini sepenuhnya, kesadaran kita akan selalu waspada saat pertahanan lawan terbuka.

Awan yang menutupi cahaya bulan serupa dengan rasa gugup atau gangguan untuk memahami gerakan lawan yang benar. Dan hal itu berarti mustahil menemukan sebuah celah untuk melancarkan teknik yang sesuai.

Pikiran dan Keinginan yang Menyatu

Dalam menggunakan analogi moderen, jika pikiran dibandingkan dengan speaker telepon, maka keinginan sama dengan arus listrik. Tidak masalah sesensitif apapun speakernya, jika tidak ada arus listrik, maka komunikasi tidak mungkin terjadi.

Sama saja, sekalipun kau memahami gerakan lawan dengan benar, dan sadar akan sebuah serangan, namun tidak ada keinginan untuk bertindak maka tidak akan ada teknik efektif yang muncul. Pikiran dapat menangkap munculnya serangan, namun keinginan harus diaktifkan untuk melancarkan teknik yang dibutuhkan.

payo belajar bahaso jepang !!!!

Yang Umum diucapkan di Awal Pembicaraan



[JAP] Ohayou / Ohayou gozaimasu
[INA] “selamat pagi”


[JAP] Konnichiwa
[INA] “selamat siang”


[JAP] Konbanwa
[INA] “selamat malam”


[JAP] Yoroshiku onegaishimasu
[INA] “mohon bimbingannya” / “mohon bantuannya”

–> (biasanya diucapkan pada saat berkenalan, atau pada saat akan mengerjakan sesuatu bersama-sama)


[JAP] O genki desu ka?
[INA] “Apakah Anda sehat?”


[JAP] O kage desu
[INA] “Saya sehat-sehat saja.”
–> (digunakan untuk menjawab “O genki desu ka?”)


[JAP] Kyou wa ii o tenki desu ne?
[INA] “Cuaca hari ini bagus, bukan?”


[JAP] Youkoso!
[INA] “Selamat datang!”


[JAP] Moshi-moshi…
[INA] “Halo…” (berbicara lewat telepon)







Yang Umum diucapkan Selama Percakapan Berlangsung



[JAP] Hai
[INA] “Ya”

–> (untuk menyetujui sesuatu atau menjawab pertanyaan)


[JAP] Iie
[INA] “Tidak”

–> (kebalikannya “hai”)


[JAP] Arigatou / Arigatou gozaimasu
[INA] “Terima kasih”

–> (gozaimasu di sini dipakai untuk ucapan formal, atau bisa juga menyatakan “terima kasih banyak”)


[JAP] Gomen na sai
[INA] “Mohon maaf”


[JAP] Sumimasen
[INA] “Permisi”

–> (bisa juga diterapkan untuk minta maaf seperti “gomen na sai”)


[JAP] Zannen desu
[INA] “sayang sekali” / “amat disayangkan”


[JAP] Omedetou, ne
[INA] “Selamat ya”

–> (untuk beberapa hal yang baru dicapai, e.g. kelulusan, menang lomba, dsb)


[JAP] Dame / Dame desu yo
[INA] “jangan” / “sebaiknya jangan”


[JAP] Suteki desu ne
[INA] “Bagus ya…” / “indah ya…”

–> (untuk menyatakan sesuatu yang menarik, e.g. ‘hari yang indah’)


[JAP] Sugoi! / Sugoi desu yo!
[INA] “Hebat!”


[JAP] Sou desu ka
[INA] “Jadi begitu…”

–> (menyatakan pengertian atas suatu masalah)



[JAP] Daijoubu desu / Heiki desu
[INA] “(saya) tidak apa-apa” / “(saya) baik-baik saja”







Jika Anda Kesulitan menangkap Ucapan Lawan Bicara Anda



[JAP] Chotto yukkuri itte kudasai.
[INA] “Tolong ucapkan lagi dengan lebih lambat.”


[JAP] Mou ichido itte kudasai.
[INA] “Tolong ucapkan sekali lagi.”


[JAP] Motto hakkiri itte kudasai.
[INA] “Tolong ucapkan dengan lebih jelas.”







Untuk Mengakhiri Pembicaraan



[JAP] Sayonara
[INA] “Selamat tinggal”


[JAP] Mata aimashou
[INA] “Ayo bertemu lagi kapan-kapan”


[JAP] Ja, mata / mata ne
[INA] “Sampai jumpa”


[JAP] Mata ashita
[INA] “Sampai jumpa besok”







Beberapa Kalimat yang Tidak Selalu Muncul dalam Dialog, tetapi merupakan Elemen Kebudayaan Jepang



[JAP] Irasshaimase!
[INA] “Selamat datang!”

–> (kalimat ini hanya diucapkan oleh petugas toko ketika Anda berkunjung)


[JAP] Ittekimasu!
[INA] “Berangkat sekarang!”

–> (kalimat ini diucapkan ketika Anda hendak pergi meninggalkan rumah pada orang yang tetap tinggal di dalam)


[JAP] Itterasshai
[INA] “Hati-hati di jalan”

–> (diucapkan ketika seseorang hendak pergi ke luar rumah; umumnya sebagai jawaban untuk “Ittekimasu”)


[JAP] Itadakimasu
[INA] [literal] “Terima kasih atas makanannya”

–> (kalimat ini sebenarnya tidak diartikan secara harfiah. Masyarakat Jepang biasanya mengucapkan kalimat ini sebagai ungkapan rasa syukur atas makanan yang dihidangkan)


[JAP] Gochisousama deshita
[INA] [literal] “perjamuan/hidangan sudah selesai”

–> (seperti “Itadakimasu”, kalimat ini juga tidak diartikan secara harfiah. Masyarakat Jepang pada umumnya mengucapkan kalimat ini seusai makan)


[JAP] Kimochi ii…!
[INA] [literal] “terasa nyaman”

–> (umum diucapkan jika Anda merasakan sesuatu yang nyaman di suatu tempat. E.g. ketika Anda pergi ke gunung dan merasa bahwa udaranya bagus, kalimat ini bisa dipakai untuk mengekspresikannya. ^^ )

Sumber : http://sora9n.wordpress.com

Filosofi PIKIRAN LAkSANA air di danau (Karate )

Mizu No Kokoro (Minda itu seperti air) Konsep ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah untuk pengamal bela diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda itu seumpama air di danau. Bila bulan mengambang, kita akan dapat melihat bayangan bulan dengan terang di danau yang tenang. Sekiranya dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danauitu akan kabur.

Warisan Terhebat Sang Nenek Kepada Cucunya

Penulis : Suhardi
Rating Artikel :
Jumat, 30-Juli-2010
Pada suatu kala, hiduplah seorang nenek tua renta bersama seorang cucunya yang baru menginjak remaja. Kedua orangtua dari cucunya telah meninggal terlebih dahulu. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk yang hampir roboh. Mereka terpaksa tinggal di sana karena tidak memiliki uang. Mereka sangatlah miskin, tidak seperti tetangga-tetangga yang hidup berkecukupan.
Sang nenek pun sudah tua dan sakit-sakitan. Cucunya dengan penuh kasih sayang merawatnya. Meskipun ia bekerja keras banting tulang, ia hanya bisa mendapatkan sedikit uang yang tentunya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan apapun dilakukannya asalkan bisa menghasilkan uang. Hidupnya seperti tidak memiliki masa depan, gali lubang tutup lubang.
Setelah beberapa waktu lamanya, sang nenek merasa waktunya hampir tiba meninggalkan dunia ini. Sang nenek begitu sedih karena tidak punya apapun untuk cucunya kelak ketika dirinya sudah tiada. Akhirnya timbullah ide cemerlang. Dengan sedikit uang yang dikumpulkan dengan susah payah, dan dengan tubuh yang sakit-sakitan, ia berjalan sendiri ke sebuah toko tanpa sepengetahuan cucunya yang sedang bekerja.
Apa yang ingin dibeli sang nenek? Ternyata ia membeli sebuah boneka shaolin yang biasa dipakai untuk berlatih kungfu. Boneka tersebut ia taruh di gubuknya dan ditutup sedemikian rupa agar cucunya tidak melihatnya.
Akhirnya tibalah waktu ketika sakit sang nenek sudah tidak tertolong lagi. Ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Cucunya sangat berduka dan bersedih, karena neneknya adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Ia tidak memiliki teman seperti layaknya orang lain. Ia tidak akan bisa lagi bercerita dan berbagi dengan orang terdekatnya. Ia tidak punya siapa-siapa lagi, ia hidup sebatang kara.
Setelah beberapa hari berlalu, pemuda tersebut semakin sedih karena kesepian dan hidup sendirian. Ia terombang-ambing dalam hidup yang tidak pasti. Ketika rasa putus asa itu begitu besar, ia pernah berniat untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Sebelum ia sempat melaksanakan niatnya, ia teringat dengan wasiat yang diberikan nenek kepada dirinya sebelum neneknya wafat.
Dengan cepat, ia membuka surat wasiat tersebut. Beginilah isi surat wasiat yang ditulis oleh sang nenek ...

"Cucuku tersayang, pada saat kamu baca surat ini, berarti nenek sudah tidak ada lagi di dunia ini. Nenek juga sebenarnya berat meninggalkanmu dalam keadaan susah seperti ini, tapi ini sudah takdir.
Nenek tidak punya harta yang bisa diwariskan padamu. Nenek minta maaf karena tidak bisa memberikan yang terbaik sampai detik terakhir. Kamu jangan bersedih. Nenek tahu hidup kamu susah. Kita juga tidak seberuntung orang lain yang bisa hidup senang. Tapi, kamu jangan sampai putus asa karena hidup harus terus berlanjut.
Nenek hanya punya sebuah warisan untukmu. Warisan ini nenek beli untuk dihadiahkan kepada kamu dan ada di dalam gubuk dengan bungkusan yang besar."
[Pemuda tersebut menemukan dan membuka bungkusannya. Isinya adalah sebuah boneka shaolin. Tapi ia tidak tahu apa maksudnya. Ia melanjutkan surat wasiat tadi].
"Nenek memberi boneka shaolin ini agar kamu bisa menjadi seperti dirinya. Lihatlah boneka itu dan cobalah pukul sekuat-kuatnya."
[Pemuda itu mencoba memukulnya, dan boneka itu terombang-ambing. Tetapi sesaat kemudian, boneka itu berdiri tegak seperti semula. Alangkah terkejutnya pemuda itu. Berkali-kali ia memukul sekuat tenaga sampai lelah, tetapi boneka itu tetap tidak mau terjatuh].
"Lihatlah boneka itu, ia akan tetap berdiri tegar meskipun dipukul berkali-kali. Ia tidak pernah terjatuh. Ia tetap sabar menerima pukulan dan sebanyak itulah ia akan tetap berdiri, tanpa pernah menyerah.
Cucuku, hidup terkadang sulit. Nenek hanya mengharapkan kamu agar tidak menyerah. Ketika kamu jatuh dan putus asa, lihat kembali boneka ini. Kamu harus tetap berdiri. Ketika pukulan dan hantaman datang bertubi-tubi, sebanyak itulah kamu harus bertahan dan tetap bangkit. Saat kamu bertekad untuk tidak pernah menyerah, maka orang lain yang akan menyerah dan saat itulah kamu akan menang.
Hidup kamu sekarang memang susah. Tapi, jika kamu tidak pernah mau menyerah, hidup kamu pasti akan berubah. Saat itulah nenek akan bangga melihat kamu. Meskipun kamu seorang diri, jangan takut. Nenek akan selalu melihat dan menemanimu. Lakukan apa yang harus kamu lakukan dan jadilah seorang yang bermental seperti boneka shaolin itu. Meskipun kamu miskin, kamu harus memiliki mental seorang pemenang. Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu maksud nenek. Semoga wasiat dan warisan dari nenek bisa mengubah hidup kamu."
Setelah membaca surat wasiat nenek, pemuda itu menangis keras. Ia merasa begitu bodoh karena sebelumnya berniat untuk bunuh diri. Saat itulah, dirinya berubah. Surat wasiat itu benar-benar membuatnya menjadi seorang bermental baja. Dengan bekal itu, beberapa tahun kemudian, ia benar-benar menjadi orang yang sukses dan kaya. Warisan sang nenek yang terkesan tidak berharga ternyata mampu mengubah seorang pemuda putus asa menjadi seorang juara.
Pesan kepada pembaca:

Berapa banyak orang yang berani bangkit lagi setelah jatuh berkali-kali? Berapa banyak orang yang terus maju meskipun terus-menerus gagal? Berapa banyak orang yang terus berjuang meskipun sudah pernah kalah sebelumnya?
Tidak banyak orang yang seperti itu. Sangat banyak orang yang lebih memilih menyerah. Mereka tidak kuat ketika menyadari diri mereka terjatuh dan kalah. Bahkan tidak sedikit pula yang sudah menyerah kalah sebelum gendang perang ditabuh.
Adakah sesuatu hal yang seharusnya Anda lakukan, tetapi Anda memutuskan untuk berhenti? Coba ingat-ingat kembali hal berharga yang bisa Anda raih jika saja Anda tidak pernah menyerah. Sayang, hal berharga tersebut harus hilang karena Anda memutuskan untuk mengaku kalah. Hal yang bisa membuat Anda bahagia dan bangga jika tercapai ternyata harus terbang begitu saja. Apakah hal tersebut terlalu kecil sehingga Anda membuangnya dengan cara berhenti dan menyerah? Apakah Anda rela menukarkan impian Anda yang begitu berharga dengan sebuah pengakuan bahwa Anda sudah menyerah?
Ingat, jika Anda tidak pernah mau menyerah, maka cepat atau lambat lawan Anda yang akan menyerah. Jika lawan Anda sudah menyerah, maka Andalah yang menjadi pemenang. Berjanjilah untuk memberikan perlawanan yang terbaik dan terhebat.
Meskipun Anda akhirnya harus kalah, katakan pada lawan Anda bahwa ia pun tidak akan menang dengan mudah. Katakan padanya jika ia akhirnya menang, ia akan menang dengan perjuangan yang berdarah-darah dan mati-matian sampai sisa tenaga terakhir!

www.andriewongso.com